Latest Entries »

Selamatkanlah Putri-Putri Kalian..! (bahagian III)

Oleh: Syaikh Salim al ‘Ajmiy hafizhohullaah.

(Khutbah Kedua)

Segala puji bagi Allah dan segala syukur kepada Allah atas taufik-Nya yang menyeluruh. Dan aku bersaksi bahwa tiada sembahan yang haq kecuali Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya. Dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya semoga Allah senantiasa memberi sholawat dan salam kepadanya dan keluarganya serta para Sahabatnya, para penunjuk jalan bagi manusia dan pelita-pelita dalam kegelapan.

Para tuan sekalian,

Bertakwalah kepada Allah, dalam sikap cemburu terhadap kehormatan dan kemuliaan kalian. Karena ia adalah sesuatu yang paling mahal, dan milik yang paling berharga. Dengannyalah dibedakan antara orang-orang mulia dan orang-orang rendahan, orang-orang terhormat dan orang-orang hina. Maka janganlah kalian lalai dalam rasa cemburu kalian terhadap para wanita kalian. Jangan kalian serahkan tali kendali urusan kalian kepada para penyeru kesesatan dan penyimpangan. Sebab mereka akan hanyut bersama para wanita kalian ke dalam jurang. Kalau rasa malu seorang pemudi telah hilang, maka apa yang tersisa padanya?

[Akan kujaga kehormatanku dengan hartaku, takkan kukotori
Tidak ada gunanya harta kalau kehormatan tlah ternodai
Harta yang hancur bisa kudapat lagi
Kehormatan yang rusak tak mungkin kembali]

Ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah pun cemburu. Dan kecemburuan Allah itu adalah ketika seseorang melakukan apa yang Allah haramkan. Sebagaimana yang terdapat dalam hadis shahih. Maka cemburu itu adalah termasuk sifat terpuji. Siapa yang memiliki kecemburuan, akan semakin tinggi kedudukannya. Dan siapa yang kehilangan rasa cemburu, ia akan menjadi seperti barang tak berharga. Sa’ad bin ‘Ubaadah berkata: “Kalau aku lihat ada seorang laki-laki bersama istriku, maka akan aku pukul laki-laki itu dengan pedangku tanpa ampun”. Perkataan ini pun sampai kepada Rasulullah shollallahu’alayhiwasallam. Maka beliau berkata: “Apakah kalian heran dengan kecemburuan Sa’d? Sesungguhnya aku lebih cemburu dari Sa’d. Dan Allah lebih cemburu dariku”.

Ali rodhiyallaahu’anhu pernah mengirimkan surat kepada salah satu kota, untuk berbicara kepada para penduduknya. Ia menulis: “Telah sampai kepadaku kabar bahwa perempuan-perempuan kalian berdesak-desakan di pasar dengan orang-orang kafir non-arab!! Tidakkah kalian cemburu?! Sungguh tidak ada kebaikan pada orang yang tidak punya rasa cemburu”. Bagaimana kalau beliau melihat keadaan kita dan sudah sampai sejauh mana kita sekarang ini.

Dan salah satu kisah sejarah waktu dulu yang pernah diceritakan kepada kami, dan masih tetap terus teringat. Ada seorang wanita yang datang kepada salah seorang hakim. Wanita ini mengajukan klaim pada suaminya bahwa suaminya itu memiliki hutang maskawin sebesar 500 dinar. Sang suami pun mengingkari bahwa dia memiliki hutang. Maka hakim berkata: datangkanlah saksi-saksimu untuk menunjuk wanita itu dalam kesaksian mereka. Maka sang suami menghadirkan para saksi. Hakim berkata kepada salah seorang dari mereka: “Lihatlah kepada wanita itu, untuk kau tunjuk dalam kesaksianmu”. Sang suami pun bangkit berdiri dan berkata: “Apa yang kalian inginkan dengannya (istriku -pent)? Dijawab: “Si saksi haruslah melihat wajah istrimu agar pengenalannya atas istrimu itu sah”. Laki-laki itupun dikuasai ketinggian harga dirinya, dan kecemburuan terhadap istrinya pun bangkit. Dia berteriak di depan orang banyak. “Sungguh aku bersaksi kepada hakim bahwa aku berhutang mas kawin itu kepada istriku. Tapi istriku jangan sampai menampakkan wajahnya”. Sang istri pun berkata: “Dan aku bersaksi bahwa aku merelakan maskawinku, karena kecemburuannya terhadapku dengan tidak diperlihatkannya wajahku!”.

Semoga Allah merahmati mereka.

Betapa jauhnya mereka dari orang-orang di zaman sekarang ini. Orang-orang yang telah lepas dari rasa malu dan kehilangan rasa cemburu. Sehingga perempuan-perempuan mereka pun keluar dengan memperlihatkan wajah, kepala, tangan dan betis. Dan mereka mengaku-ngaku sebagai orang-orang pencemburu!

Para tuan sekalian, awaslah terhadap apa yang hendak diperbuat terhadap kalian. Janganlah teriakan-teriakan keji dari para westernis yang sekuler dan munafik itu sampai memfitnah kalian. Teriakan-teriakan yang tersebar dan beredar di media-media informasi. Apakah kalian tahu apa yang mereka inginkan terhadap kalian? Mereka ingin menjarah kehormatan dan keiffahan yang kalian nikmati dan telah hilang dari mereka.

Salah seorang wanita tak bermoral menyerukan pendirian tempat-tempat disko bagi para pemuda dan pemudi untuk bersenang-senang. Sesungguhnya mereka dengki terhadap kalian dengan hijab dan rasa malu yang tidak lagi mereka miliki. Sehingga mereka ingin agar kalian sama dengan mereka. Utsman berkata: “Seorang wanita pezina itu ingin sekali kalau semua wanita adalah pezina”. Mereka ingin menghancurkan kalian dengan komentar-komentar mereka yang menghina hijab, dan menghina orang-orang yang berpegang teguh dengan agama ini sebagai orang-orang terbelakang, agar kalian merasa rendah diri di hadapan seruan-seruan mereka. Kemudian kalian serahkan kendali kepemimpinan kepada mereka. Lalu kalian pun jatuh bersama mereka ke dalam jurang. Mereka ingin merampas putri-putri kalian dan bersenang-senang dengan mereka. Karena mereka iri terhadap penjagaan dan sikap terhormat kalian.

Aku sampaikankan seruanku ini kepada setiap laki-laki, agar ia bertakwa kepada Allah, dan bersikap cemburu terhadap para mahromnya. Dan dengarkanlah apa yang dikatakan oleh seorang wanita yang menyesal setelah kehilangan keiffahan dan kehormatannya. Ia berkata: “Tidak ada seorang wanitapun yang lalai menjaga kehormatannya, kecuali hal itu adalah akibat dosa seorang laki-laki yang lalai menunaikan kewajibannya”.

Sesungguhnya orang-orang munafik dan sekuler menaruh dengki terhadap kehormatan kalian. Mereka bertanya-tanya dengan penuh penyesalan: mengapa cuma mereka? yaitu, yang bisa sedemikian rupa menjaga kehormatan? Bukankah termasuk kebodohan dan kerendahan, seorang perempuan yang keluarganya adalah teladan kemuliaan dan simbol keberanian, tapi ia sendiri tidur sebagai seorang pelacur di hadapan para anjing itu?

Bersungguh-sungguhlah dalam menjaga kehormatan kalian. Jangan biarkan perempuan-perempuan kalian terkena fitnah, lalu kalian meminta sesuatu yang mustahil kepada mereka. Jangan engkau tempatkan dia di hadapan para lelaki, kemudian engkau berkata: tahanlah dirimu!

Tunjukkan kepadaku seorang laki-laki dari kalian yang bisa menahan nafsunya di depan seorang wanita yang ia suka. Maka aku akan percaya bahwa ada seorang wanita yang bisa menahan nafsunya di depan seorang laki-laki yang selalu berbaur dengannya dan ia cenderung terhadap laki-laki tersebut.

Kalau kalian tidak mampu melakukannya, maka ketahuilah bahwa para wanita lebih tidak mampu lagi.

Saudariku,

Di zaman sekarang yang segala sesuatunya telah berubah, dan tidak ada lagi moral yang tersisa di sekian banyak tempat kecuali hanya bekasnya saja, dan di mana kita telah kehilangan banyak pemuda yang memiliki kecemburuan karena telah membatunya perasaan mereka, juga di mana kita telah kehilangan banyak pria-pria kesatria karena telah bengkoknya pemahaman mereka, dan di saat tidakadanya pengawas yang sungguh-sungguh menjaga agar jangan sampai mahrom-mahrom mereka dinodai, atau jangan sampai pagar-pagar mereka dipanjat orang, kami sampaikan panggilan ini kepadamu sebagai himbauan bagimu berkenaan dengan agama, penutup aurat dan rasa malumu.

Saudariku,

Di saat para pelaku keburukan telah mulai menjulurkan lidah mereka laksana ular, menyimpan hati serigala di antara tulang-tulang rusuk mereka dan mengenakan pakaian rubah.

Di masa yang penuh dengan fitnah dan bencana, disertai hilangnya para pria yang memiliki kecemburuan, jagalah dirimu baik-baik, berpegang teguhlah dengan hijabmu karena hijabmu adalah keiffahan dan hartamu yang amat mahal, maka jangan menyepelekannya.

Pacul-pacul penghancur begitu banyak! Mengepungmu dari segala penjuru. Maka hati-hati dan awaslah! Jangan sampai para penyeru kebejatan itu membunuh kita melaluimu dan jangan sampai mereka menikam kita dari jalanmu.

Wahai saudari kami, wahai kemuliaan kami, wahai simpanan kehormatan kami, berpegangteguhlah dengan keiffahanmu dan hijab syar’iymu di masa keterasingan ini. Jangan sampai banyaknya wanita yang meniru-niru para perempuan rendahan yang engkau lihat, membuatmu lemah. Karena engkau lebih mahal dan lebih tinggi. Engkau tidak ruwet, engkau tidak terbelakang, engkau tidak murahan.

Berapa banyak pria yang menjaga iffahnya sangat menginginkanmu menjadi istrinya, yang percaya kepadamu ketika ia keluar, yang bisa menitipkanmu sesuatu paling berharga miliknya. Dan berapa banyak para pria berandal yang tidak melihat perempuan rendahan itu kecuali hanya sebagai mainan sementara.

Wahai kekayaan kami yang begitu mahal, wahai simpanan keiffahan, wahai pribadi langka di masa orang banyak kehilangan sesuatu yang berharga! Wahai simbol keiffahan! Jangan resah dengan keterasinganmu! Karena keterasinganmu itu sesuatu yang terpuji dan akan hilang setiapkali engkau bertambah akrab dengan Allah.

Jangan engkau anggap perempuan rendahan itu bahagia!! Darimana kebahagiaan itu akan datang kepadanya, sedang ia sendiri tahu bahwa hasrat paling jauh para lelaki terhadapnya hanyalah agar ia sekedar menjadi seorang pacar.

Waspadalah terhadap para penyeru keburukan yang telah kehilangan milik paling bernilai seorang wanita. Mereka ingin menceburkanmu ke kubangan telah menenggelamkan mereka. Waspadailah setiap penyeru kebejatan dan klaim-klaim sesat mereka dengan nama apapun! Mereka ingin memanfaatkanmu!! Apakah kamu mau dengan hal-hal rendahan itu?

Awas, jangan sampai engkau ikut dalam rombongan mereka, dan jangan sampai engkau terjerat dalam tipu daya mereka. Waspadalah, wahai pribadi yang segenap ayah, putra dan saudara menegakkan kepala penuh bangga terhadapmu. Jangan buat kepala-kepala itu tertunduk malu dengan tidurnya engkau di pelukan pria bejat yang setelah itu ia membuat hina keluarga terhormatmu. Lihatlah kepada laki-laki yang berbangga telah dapat mempermainkanmu, wahai putri kemuliaan dan kehormatan! Sedang laki-laki itu, siapa dia? Duhai betapa rendah dan sedihnya. Tidak pantaskah kita meneteskan air mata atas kehormatan yang telah direndahkan dan kemuliaan yang digelincirkan?

Sesungguhnya ada sekelompok orang yang ingin mempermainkanmu. Dulu mereka tidak berhasil dengan para pendahulumu, walaupun hanya dengan pemikiran. Tapi bagaimana sekarang mereka bisa mempermainkanmu di atas meja-hidangan kejatuhan.

Jangan tertipu dengan suara-suara mereka yang meneriakkan pembebasan, pemberian hak-hak wanita, mereka tidak lain hanya ingin engkau bertabarruj, dan supaya engkau datang kepada mereka dengan sukarela, dan lisan keadaanmu seolah berkata: “Ini aku. Untukmu. Dan perbuatlah apa saja sekehendakmu tanpa batas”.

“Dan Allah hendak menerima taubatmu, sedang orang-orang yang mengikuti hawa nafsunya bermaksud supaya kamu berpaling sejauh-jauhnya (dari kebenaran).” (Q.S.4:27)

Jangan sampai mereka masuk kepadamu dari pintu keburukan. Karena tipudaya mereka amat banyak, dan taktik mereka sangat licik. Mereka telah terlatih dengan kebatilan sampai mereka menguasai selu-beluknya.
Kalau mereka berkata kepadamu: lepaslah hijab syar’iymu, tentu engkau tidak akan mau dan berteriak: hijabku, hijabku! Maka dari itu mereka masuk dengan perlahan-lahan seperti masuknya setan, maka tidakkah engkau bangkit sadar wahai saudariku?

Ketahuilah bahwa hijab itu adalah hiasan seorang wanita. Maka kalau engkau mengenakan hijab, kenakanlah ia karena Allah. Sebab ini adalah modal utama. Boleh jadi engkau akan diuji dengan seorang laki-laki hina yang dayuts!! Maka jangan engkau tanggalkan pakaian kehormatan dan harga diri untuk seorang dayuts yang sebenarnya bukan seorang pria.

Dan kalau engkau mengenakan hijab syar’iy karena Allah, dan untuk menjaga dirimu, maka kenakanlah ia sebagaimana yang Allah kehendaki. Jangan engkau membuat firnah dengan menyingkap hijabmu karena ia adalah modal utamamu. Ketahuilah, ketika engkau mengenakan hijab syar’iy, maka engkau mengenakannya karena taat kepada Tuhanmu. Oleh karena itu sudah sepantasnya, sedang keadaanmu sedemikian, engkau merasa bangga dan nyaman dengannya.

Tidakkah aneh, seorang wanita yang mutabarrijah bangga dengan tabarrujnya, sedangkan engkau tidak bangga dengan hijabmu? Pujilah Allah atas nikmat hijab syar’iymu dan atas kemampuanmu untuk mengenakannya. Berapa banyak wanita yang berharap mendapatkan nikmat ini tapi belum mendapatkan tawfiq untuk itu. Atau ia terhalangi oleh sebab-sebab yang di luar keinginannya.

Hiasilah jiwamu dengan ketakwaan sebagaimana engkau menghiasi zohirmu dengan hijab yang merupakan simbol wanita-wanita yang menjaga iffah mereka. Dan hati-hatilah jangan sampai arus zaman ini menggulungmu sebagaimana ia telah menghanyutkan wanita-wanita lain sehingga timur mereka menjadi barat, dan utara mereka menjadi selatan.

Waspadalah terhadap tabarruj yang dikaleng (dikiaskan dengan produk-produk seperti makanan/minuman yang dikemas dalam kaleng -pent) yang dinamakan penutup aurat, tapi tinggal nama saja. Dan yang disebut hijab, tapi tinggal sebutannya saja.

Saudariku,
Peristiwa-peristiwa yang  menyedihkan begitu banyak, hal-hal yang memedihkan perasaan tersebar di mana-mana, dan fitnah-fitnah begitu merajalela. Hati-hatilah jangan sampai engkau celaka. Karena dengan kecelakaanmu itu, celaka jugalah umat ini. Apakah engkau menyadari hal itu?

Ya Allah perbaikilah keadaan wanita-wanita kaum muslimin..
Ya Allah perbaikilah keadaan pemuda-pemuda kaum muslimin..
Ya Allah perbaikilah keadaan lelaki-lelaki kaum muslimin..
Ya Allah nyalakanlah dalam hati mereka bara api kecemburuan..
Ya Allah perbaikilah keadaan lelaki-lelaki kaum muslimin..
Ya Allah nyalakanlah dalam hati mereka bara api kecemburuan..

(Selesai)

Diterjemahkan oleh tim redaksi akhwat dari tautan: http://www.salemalajmi.com/main/play.php?catsmktba=138&pagecomment=2

Share:
  • Facebook
  • Twitter
  • MySpace
  • RSS

Selamatkanlah Putri-Putri Kalian..! (bahagian II)

Oleh: Syaikh Salim Al ‘Ajmiy hafizhohullaah

Dan salah satu musibah yang merisaukan, sumber kebinasaan yang menghancurkan, yang membuat hati ini meleleh karena sedih dan pedih: perbuatan sebagian orang yang memasukkan “satelite” ke dalam rumahnya. Secara sadar atau tidak sadar, ia telah mengajak keluarganya kepada keburukan, penyimpangan, mengenal hal-hal yang menyebabkan kecurigaan, menghidupkan perbuatan-perbuatan rendah, dan membunuh perilaku-perilaku luhur.

Engkau dapatkan di dalam rumah itu seorang gadis yang belum menikah, atau mungkin yang sudah telat menikah, atau seorang gadis belia yang masih belum tahu apa-apa soal dunia, lalu orang tadi menanamkan alat ini di rumahnya, maka “satelite” ini pun menjadikan naluri itu menyala-nyala, membuat perasaan itu berkobar-kobar, dan memudahkan siapapun untuk terjerembab dalam kesalahan. Akibat tayangan-tayangan yang membangkitkan syahwat dan film-film yang menggoda hasrat. Kalau gadis itu tidak menemukan jalan untuk memenuhi hasratnya secara halal, maka ia akan berusaha mencari hal-hal yang haram, yang diajarkan oleh “satelite” ini tentang bagaimana mendapatkannya dengan cara yang mudah.

Dan bisa jadi, perempuan ini adalah seorang istri yang tidak mendapatkan perhatian dari suaminya. Sedang suaminya itu melalaikannya dengan sering berada di tempat-tempat hiburan atau kantor. Atau mungkin sedang bergaul dengan para pelacur dan perempuan rendahan. Maka sang istripun duduk bergelut dengan dua perkara: antara sebuah “satelite” yang menggelorakan perasaannya dengan menayangkan postur indah laki-laki, dan seorang suami hidung belang yang lalai dan sibuk dengan kesenangannya sendiri. Maka ia pun tidak menemukan jalan lain selain dengan menjatuhkan diri dalam kesalahan.

Di sini kami tidak sedang mempermudah kaum wanita untuk melakukan penyimpangan dan kami tidak sedang membela mereka untuk itu. Akan tetapi kami menceritakan kenyataan yang ada, dengan harapan semoga hal itu dicermati oleh para lelaki yang khawatir kalau kehormatan mereka akan terkotori.

Maka berapa banyak orang yang memasukkan “satelite” ke rumah, lalu itu menyebabkan perilaku putra putri mereka berubah. Mulailah putri-putri mereka sering menenteng handphone, membantah orang tua mereka, bersikap kelaki-lakian terhadap saudara atau suami mereka. Apakah orang yang memasukkan “satelite” ini tidak melihat perubahan itu?

“atau apakah kamu mengira bahwa kebanyakan mereka itu mendengar atau memahami. Mereka itu tidak lain, hanyalah seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat jalannya (dari binatang ternak itu).”

Ada sekian orang yang menghadirkan “satelite” ini ke rumah mereka dengan tidak menyadari akibat perbuatan tersebut, maka mereka kemudian menuai kerendahan dan kehinaan, kecelakaan dan kehancuran. Mereka telah membangkitkan naluri dan menggelorakan hati putri-putri mereka, hingga putri-putri mereka itu pun terperosok dalam kesalahan. Coreng morenglah wajah yang tadinya putih, dan tertunduk hinalah kepala yang tadinya lurus tegak, lalu merekapun meratapi nasib pahit itu. Maka terdengarlah teriakan menyedihkan yang menjawab mereka:

“”Sudah cukup celaan itu ayah, engkaulah yang tercela
Cukup sudah, kini tak ada lagi gunanya mencela

Merintihlah keiffahanku dan mengaduhlah kesucianku
Mata ini dengan pedihnya terpejam rasa malu

Ayah, dulu mutiara kesucian adalah celak mataku
Kini dengan air mata terhapus sudah celak itu

Aku adalah seorang perawan, wahai ayahanda!
Yang nampak kotor di mata mereka yang mulia

Panah kehinaan tertancap dalam keiffahanku
Namun, apa yang engkau tahu tentang panah itu?

Yah, siapakah orang yang bisa menerima kenyataanku
Sedang di rahim ini menggeliat hasil perbuatan haram itu

Yah, siapakah yang akan menerimaku sebagai gadisnya
Sedang di mata orang aku sudah sedemikian tercela

Luka badan akan sembuh lama-lama
Namun luka kehormatan tidak ada sembuhnya

Ayah, inilah keiffahanku, maka jangan cela aku
Ia terkotori yang haram karena perbuatanmu

Kau tanam di rumah kita piringan kefasikan
Buahnya, wahai ayah, racun dan kematian

Kekufuran dan penyimpangan mengobarkan api
Yang ikut menyalakan gejolak di mata naluri kami

Kami tonton kisah kasih asmara
Kami pun penasaran, apakah itu cinta?

Bermacam gaya sensual mereka kuasai
Nafsu di hati orang yang menyaksikannya pun menjadi-jadi

Seakan telah engkau sediakan seorang pelacur
Yang menggoda kami ketika orang pergi tidur

Kalau saja batu itu punya hati, ayah
Tentu ia akan terangsang, apalagi manusia, yah

Engkau menghardikku atas terlepasnya kesucianku
Padahal kaulah yang mestinya dihardik, kalau kau tahu

Ayah, telah kau hancurkan aku dan kini kau menangisi
Reruntuhan puing sambil berkata: mengapa ini bisa terjadi?

Ayah, darah kesucianku inilah buah yang kau petik
Maka siapakah di antara kita yang seharusnya dihardik?”

Maka adakah orang yang tersadar sebelum musibah itu terjadi, dan sebelum kecelakaan itu menimpa? Mengapakah kita tidak mengambil pelajaran dari orang lain. Apakah kita menunggu untuk dijadikan pelajaran oleh orang lain? Keluarkanlah piringan-piringan yang disodorkan oleh bangsa Barat busuk itu, yang lalu disimpan oleh rumah-rumah kalian. Apakah kalian menunggu sampai putri kalian keluar dengan teman laki-lakinya meskipun kalian tidak suka? Apakah kalian ingin ia membawa teman laki-lakinya itu ke rumah? Inilah yang diajarkan oleh “satelite” itu, maka sadarlah..!

Sekalipun musibah yang ditimbulkan oleh “satelite” ini begitu besar, namun ia mulai nampak remeh di depan fitnah internet!

Ini membuktikan kebenaran hadis Rasulullah shollallaahu’alayhiwasallam: “Akan datang fitnah-fitnah yang sebagiannya membuat sebagian yang lain menjadi nampak kecil”. Maksudnya, setiapkali datang suatu fitnah, maka fitnah yang sesudahnya membuatnya nampak remeh, dan kelihatan kecil padahal tidak kecil. Tapi karena begitu besarnya fitnah yang datang kemudian itu.

Apakah kalian tahu, apa internet itu?

Ia adalah alat yang menghubungkanmu dengan dunia, dari utara sampai selatan, dari timur ke barat. Maka kamu bisa membaca apa saja yang kau mau. Kamu bisa masuk ke saluran apa saja yang kau suka. Di dalamnya ada pemandangan dan perkataan apa saja tanpa batas. Internet ini sudah sedemikian banyak menghancurkan pemudi-pemudi. Maka berubahlah tingkah laku mereka. Mulailah mereka menjalin pertemanan dengan pemuda-pemuda melalui chat. Dan mulailah terjalin hubungan yang maksud di belakangnya tidak lain adalah perbuatan keji dan merusak kehormatan.

Maka wahai orang-orang yang memiliki kecemburuan, bagaimana kalian bisa mengizinkan putri-putri kalian menceburkan diri dalam lautan internet? Di manakah sikap melindungi kalian? Di manakah kecemburuan kalian? Di manakah kesatriaan kalian? Tidak cukupkah kerusakan yang ada di jalan-jalan sekeliling, sehinga kalian menyodorkan untuk putri kalian kerusakan seluruh dunia (yang ada di internet -pent)?

Dan yang mengherankan juga adalah orang yang mengizinkan perempuan-perempuannya masuk ke kafe-kafe internet dengan alasan membuat kajian sekolah. Bagaimana engkau mengizinkan wanita-wanita-muhrim-mu untuk berikhtilat dengan pemuda-pemuda kafe yang sebagian besarnya datang tidak lain untuk berbuat kerusakan dan berselancar di situs-situs kehinaan??

Dan salah satu hal yang sudah umum dan jamak, yang merobohkan prinsip dan nilai, yang orang tak lagi bisa berkata apa-apa tentangnya dan menciut sudah semua ungkapan di hadapannya: mengizinkan anak-anak perempuan untuk berikhtilat di sekolah ataupun di tempat kerja!

Dan masalah ini, apa yang harus kita katakan tentangnya dan apa yang seharusnya tidak kita katakan? Dan bagaimana kita memulainya dan di mana kita akan selesai? Semua yang berkaitan dengannya membuat sedih. Dan semua yang berkenaan dengannya membuat pedih.

Malam penuh duka ataukah pagi yang sarat dengan pilu
Sungguh, betapa banyak yang berlaku buruk padamu, wahai negriku
Kuratapi kaumku atau kudiamkan saja rasa sakitku
Sebuah duri di tenggorokanku dan setumpuk gunung dalam hatiku

Sesungguhnya ikhtilat adalah sebab setiap keburukan, dan pengantar menuju hilangnya kehormatan dan lenyapnya kemuliaan. Berapa banyak pemudi yang ketika masuk (sekolah atau tempat kerja -pent) berpakaian sopan, namun kemudian bertabarruj. Yang tadinya cerdas, namun kemudian dihinggapi kebodohan. Tidakkah walinya menanyakan dirinya sendiri apakah sebab itu semua? Ataukah sebenarnya dia melihat namun kemudian memejamkan mata. Karena terpikir olehnya untuk bisa memetik hasil gaji putrinya, atau terlepas dari kewajiban memberinya nafkah, atau alasan lain yaitu “ad dayatsah”.

Demi Allah, bagaimana dengan seorang perempuan yang berikhtilat dengan seorang laki-laki asing, apakah mungkin kalau ia tidak akan cenderung pada laki-laki itu? Seorang pemudi duduk bersama seorang pemuda dalam satu kamar atau satu ruang pertemuan, apakah engkau tidak mengira bahwa sebenarnya engkau menuntutnya untuk melakukan suatu hal yang mustahil?

Sesungguhnya ikhtilat itu mengakibatkan kecenderungan. Dan kecenderungan itu membuahkan hubungan haram yang setelahnya si pemudi itu akan menuai kerendahan dan kehinaan. Bagaimana seorang yang membiarkan perempuannya di tengah-tengah anak muda bisa menilai dirinya sebagai seorang laki-laki? Sedang anak-anak muda itu mencium aroma wangi perempuannya itu, menikmati merdu suaranya dan memperhatikan setiap gerak-geriknya? Apakah ini bukan “dayaatsah”?

Rasulullah shollallahu’alayhiwasallam bersabda: “Tidak akan masuk sorga seorang laki-laki dayyuuts”. Dan “dayyuuts adalah orang yang tidak punya rasa cemburu sedikitpun terhadap muhrim-muhrimnya.

Mengapakah sebagian orang menjadi sedemikian buta dan tuli?

Awas wahai orang yang lalai! Putrimu duduk bersama para lelaki! Tahukah kamu apa artinya itu? Jangan kalian menuntut sesuatu yang mustahil dari para wanita yang lemah itu. Perempuan itu perasaannya sensitif. Bisa saja ia duduk bersama pemuda yang telah mencuri hatinya, walaupun pemuda itu tidak bermaksud apa-apa. Dan bisa jadi ia adalah seorang perempuan yang tidak mendapatkan perhatian suaminya. Lalu ia menemukan seorang yang bersikap mesra kepadanya dan mempermainkan perasaannya yang sedang kosong, maka iapun tergiring dalam kerendahan.

Maka bertakwalah kepada Allah terhadap qalbunya para perawan
Karena para perawan itu qalbu mereka diliputi kekosongan

Sekali kuda jantan meringkik, ia akan didekati kuda betina. Sekali unta jantan menggeram, ia akan diinginkan oleh unta betina. Dan sekali kambing jantan mengembik, ia akan diminta oleh kambing betina. Dan dulu ada pepatah: “kalau kuda jantan meringkik, kuda betina akan menaruh perhatian padanya”. Lalu bagaimana dengan seorang laki-laki yang duduk bersama seorang perempuan selama satu tahun penuh, di satu meja dan di satu majlis?

Jangan kalian bilang seperti yang dikatakan oleh orang-orang bodoh yang tidak punya sikap kesatriaan: ini adalah berburuk sangka. Sesungguhnya ini adalah kenyataan yang sebenarnya. Maka bilang saja: kami sudah ciut, dan tak lagi mampu menghantam para penganut kebatilan. Dan jangan ia katakan: ini adalah berburuk sangka. Marilah kita mengakui realitas ini.

Salah satu akibat dari ikhtilat ini adalah hubungan pacaran yang sudah sedemikian biasa. Bisa jadi engkau tidak dapat menemukan -kecuali sedikit sekali- laki-laki yang tidak punya pacar. Pacaran sudah begitu menyebar, perselingkuhan sudah sedemikian banyak, perilaku bodoh semakin meningkat khususnya di antara para suami istri. Siapa yang membuka telinganya untuk mendengar keluhan banyak orang, akan mengetahui apa yang tidak diketahui oleh orang lain.

Apakah kalian tahu bahwa sudah biasa untuk sebagian orang, kalau laki-laki itu punya selingkuh? Dan ini tidaklah seberapa dibandingkan musibah orang yang menganggap perempuan yang berselingkuh itu adalah juga hal biasa! Sedangkan Allah menjadikan sifat-sifat wanita beriman itu adalah bahwa mereka
“..wanita-wanita yang memelihara diri, bukan pezina dan bukan (pula) wanita yang mengambil laki-laki lain sebagai piaraannya..”
Yaitu sebagai selingkuh dan pacar.

Para tuan sekalian,

Sesungguhnya orang-orang munafik hendak melepas penutup dari perempuan-perempuan kalian. Dan para sekularis berusaha siang malam untuk itu. Salah seorang dari mereka menulis: “Hobiku adalah memacari perempuan-perempuan dari keturunan baik-baik”. Dan yang lainnya berkata: “Hendaknya kalian mencari perempuan-perempuan dari keturunan baik-baik, karena mereka tidak mengidap AIDS”.

Dan kalian tahu apa yang mereka maksud dan yang mereka tuju.

Mereka menghendaki kalian wahai orang-orang yang masih tetap berada dalam kebaikan! Mereka ingin merendahkan kepala-kepala kalian yang tegak tinggi itu. Sungguh, betapa bodohnya orang yang menuruti mereka.
Jangan kalian bilang bahwa aku terlalu berlebih-lebihan. Sudah berapa banyak bayi-bayi temuan yang dibuang ke trotoar-trotoar jalan, tong-tong sampah atau pintu-pintu masjid. Sebagiannya bahkan ada yang dibunuh tanpa dosa apa-apa. Apakah ia hasil dari hubungan halal ataukah haram?
Saudara-saudaraku, sesungguhnya kita sedang berada di masa krisis akhlak yang sudah mencapai titik paling nadir!

Maka apakah kita sedang menunggu hari di mana seorang laki-laki berusaha mencari istri yang terjaga iffahnya namun tidak ia temukan? Sebagian wanita sudah kehilangan rasa malu akibat kelemahan mereka dan tidak adanya orang yang mengawasi. Sebagian mereka ketika sampai di tempat studi yang tidak jelas, menanggalkan hijab syar’iy yang mereka kenakan sebagai penutup kemudian bertabarruj seperti wanita-wanita rendahan. Apa yang mendorong mereka melakukan hal itu? Lemahnya pendidikan dan minimnya pengawasan.

Bocah-bocah perempuan di sekolah menenteng-nenteng handphone! Untuk apa? Kenapa? Pertanyaan-pertanyaan yang butuh jawaban.
Kita harus mengkoreksi diri dalam mendidik putri-putri kita. Karena sesungguhnya pendidikan itu adalah batu dasar pertama sebuah perilaku yang baik.

“Kalau luka yang sudah dibalut menjadi rusak
Jelas sudah kalau si tabib menyepelekan”

Periksalah buku-buku putri kalian dan perhatikan isi tas sekolah mereka. Bukan untuk mencurigai. Akan tetapi untuk sungguh-sungguh menjaga benteng ini jangan sampai ia dipanjat orang. Dan jangan sampai kehormatan ini direndahkan orang. Rasulullah shollallahu’alayhiwasallam bersabda: “Cukuplah menjadi dosa bagi seseorang, dengan tidak mempedulikan orang-orang yang ia tanggung nafkahnya”.

“Kalaulah seorang itu terjaga kehormatannya

Maka pakaian apapun yang ia kenakan, indah rupanya

Dan kalau kau tak pernah menganjurkan dirimu berbuat kebaikan

Maka tidak ada jalan bagimu untuk mendapatkan baiknya pujian”

Baarokallaahu lii wa lakum fil qur`aanil ‘azhiim…

(Bersambung insya Allah)

Diterjemahkan oleh tim redaksi akhwat.web.id dari tautan: http://www.salemalajmi.com/main/play.php?catsmktba=138

Share:
  • Facebook
  • Twitter
  • MySpace
  • RSS

Selamatkanlah Putri-Putri Kalian..!! (bahagian I)

Oleh: Syaikh Salim al ‘Ajmiy hafizhohullaah.

Segala puji bagi Allah di bumi dan langit-Nya. Pengabul doa orang yang berdo’a dengan nama-nama-Nya. Yang hanya Dia yang memiliki kemampuan penakluk. Dan hanya Dia yang memiliki kekuatan tak terkalahkan. Dialah Allah yang tiada sembahan yang haq selain-Nya. Baginya segala puji di dunia dan di akhirat.

Dia telah memberi hamba-hamba-Nya petunjuk, dengan keimanan, kepada jalan kebenaran. Dan memberi mereka tawfiq kepada bekal paling bermanfaat di akhirat. Hanya Dialah yang mengetahui yang ghaib. Sehingga Dia mengetahui yang disimpan ataupun diungkapkan oleh setiap hamba-Nya. Bertasbih kepada-Nya segala sesuatu di langit dan bumi dan begitu juga burung-burung yang mengembangkan sayapnya. Dia Maha Tahu sholat dan tasbih mereka semua.

Semoga sholawat dan salam senantiasa Allah limpahkan kepada orang yang telah Ia angkat dengan pilihan-Nya ke tempatnya yang tinggi. Dan yang telah Ia utus kepada seluruh manusia dengan agama yang lurus dan hanif. Dan yang telah ia jadikan sebagai manusia paling mulia di antara orang-orang yang terdahulu dan yang akan datang. Dan telah Ia kirimkan dengan petunjuk dan agama kebenaran untuk Ia jayakan agama itu di atas agama-agama lain, walaupun orang-orang musyrik membencinya.

Amma ba’du.

Sesungguhnya Allah subhaanahu wa ta’aalaa dengan ketinggian hikmah-Nya dan kesempurnaan nikmat-Nya, telah memuliakan agama Islam dan mensucikannya dari kotoran. Dan telah menjadikan penganutnya sebagai umat terbaik untuk seluruh manusia. Serta telah menjadikan para wali-Nya sebagai sebaik-baik dan sedekat-dekatnya hamba. Mereka memelihara batasan-batasan-Nya dan bersabar. Mereka menyeru manusia kepada-Nya dan memberi peringatan. Dan mereka itu takut kepada Tuhan yang ada di atas mereka serta mengerjakan apa yang diperintahkan. Dengan ayat-ayat Tuhan mereka beriman. Kepada keridhoan-Nya mereka bergegas. Dan terhadap orang-orang yang keluar dari agama-Nya mereka berjihad. Serta kepada para hamba-Nya mereka bersungguh-sungguh untuk bersikap tulus. Dan di atas ketaatan kepada-Nya mereka bersabar. Kepada Tuhan mereka bertawakkal. Dengan akhirat mereka beriman. Mereka itulah yang berada di atas petunjuk dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.

Namun ada sebagian orang yang telah Allah angkat derajat mereka dengan Islam, tapi mereka malah menghendaki kehinaan dengan menyimpang dari jalan yang lurus. Dan sebagian orang yang telah diberikan cahaya dalam menempuh jalan kehidupan ini, malah menghendaki hidup dalam kegelapan.

“Adalah suatu keanehan, dan yang aneh itu berupa-rupa
Yang dibutuh dekat tapi tak terjangkau dia
Bak unta mati kehausan di padang sahara
Padahal air di punuknya ia bawa-bawa”

Kenyataan tragis dan buruk yang kita temukan sekarang membuat kita khawatir akan masa depan.

Mesti kita akui bahwa kita terhanyut dalam arus yang silih berganti. Arus yang satu lebih kuat dari yang lain.

Dan para musuh kebaikan terus saja berusaha mendapatkan cara dan taktik untuk mengeluarkan para wanita Islam dari pagar iffah dan kemuliaan ke lumpur kebejatan dan kotoran.

Musibah yang lebih besar dan kengerian yang lebih dahsyat adalah bahwa banyak orang yang tertipu dengan taktik-taktik, kebatilan-kebatilan dan rencana-rencana jahat mereka. Maka norma-norma dasar pun roboh dan rasa cemburu menjadi lemah. Dan yang membuat hati bertambah duka dan sedih adalah bahwa sebagian orang bahkan menghanyutkan diri mereka dalam arus yang menyimpang ini dengan sengaja dan sadar atas kehancuran yang diakibatkannya. Sedang sebagian yang lain telah dihinggapi kelalaian sehingga tak ada kesadaran ataupun pikiran.

Kalau kau tidak tahu maka itu adalah petaka
Sedang jika kau tahu maka petakanya lebih besar lagi jadinya

Sudah pasti dan tak diragukan lagi, bahwa marabahaya yang sekarang ini kita sedang ada di dalamnya, hanyalah sebuah pendahuluan atas bahaya-bahaya lain yang lebih besar dan lebih dahsyat lagi, selama kita masih saja terus lalai.

Sekarang ini para wanita sudah sangat meremehkan perkara hijab. Dan akibat di belakang itu hanyalah banyaknya keburukan-keburukan yang mereka lakukan, pelanggaran batasan-batasan adab dan moral, dan kefasikan-kefasikan serta kerusakan. Ini adalah hal yang nampak jelas bagi semua orang.

Maka apa yang akan kita bicarakan? Dan dengan apa kita memulai?

“Kalau hanya satu panah tentu bisa kuhindari
Tapi ini satu panah, dua, tiga, bertubi-tubi”

Dan keadaan para wanita yang kita lihat sekarang ini tidak akan menjadi sedemikian rupa kalau di belakang itu tidak ada para laki-laki yang bersikap meremehkan, yang sudah melemah tekad mereka dan mengabaikan tanggungjawab, kemudian mulai mengangguk-anggukkan kepada terhadap apa yang mereka sadari sebagai hal yang tidak pantas, kebobrokan dan kehinaan..!!

Baru kemarin mereka adalah laki-laki di medan perang, para penunggang kuda gagah perkasa di medan laga, namun ketika terbit mentari pagi kenyataan menyakitkan ini, tiba-tiba mereka melepaskan pedang penentangan, menurunkan bendera kehormatan dan puas dengan hal-hal rendahan, lalu mengumumkan kekalahan dengan malu-malu.

Duhai betapa ruginya, umat yang kehilangan para jagoannya pada saat ia sedang sangat membutuhkan mereka.

Sebagian wanita sudah sampai menjadikan pasar-pasar sebagai tempat rekreasinya. Merekapun keluar dari satu pasar untuk masuk ke pasar yang lain.

Bersenda gurau dengan para penjual, berpakaian terbuka dan bermake-up wajah dan kulit.

Apakah laki-laki itu tidak bertanya pada dirinya sendiri, untuk siapa para istrinya itu berbuka-bukaan dan untuk siapa mereka berhias?

Tidakkah hatinya bergeming sedikitpun karena cemburu atas para wanitanya?

Yang lebih ngeri lagi adalah bahwa wanita itu pergi sendirian pada waktu seperti itu, yang amat banyak petakanya dan meluas bahayanya.

Tanyalah pada dirimu sendiri, untuk siapa dia berhias? Untuk siapa dia berbuka-bukaan? Apa yang dia inginkan?

Kalau setiap kita mengklaim istrinya sebagai orang yang dapat dipercaya, kalau begitu, lalu perempuan-perempuan yang memenuhi pasar-pasar dan meramaikan jalan-jalan itu, anak-anak perempuan siapa?

Pembuatan berbagai macam model pakaian sudah dimulai di tangan para musuh kebaikan. Setiap hari, pakaian yang mereka buat semakin minim dan semakin jauh dengannya sikap iffah. Namun sangat disayangkan, mereka masih saja mendapatkan orang-orang yang mengikuti mereka.

Maka muncullah pakaian-pakaian pendek dan celana-celana yang menjijikkan serta baju-baju yang mencoreng iffah..!!

Dan ketika tidak mampu mempengaruhi sebagian orang baik-baik, mereka masuk melalui pakaian-pakaian tabarruj yang dinamai dengan selain namanya. Muncullah “‘abaa`atul katif”, dan “abaya islami” serta cadar (tipis) yang pada hakekatnya tidak lain adalah “tabarruj berkaleng” yang disebut penutup padahal tidak.

Apakah ‘abaa`atul katif itu menutupi tubuh? Dan apakah abaya islami itu -seperti yang mereka klaim- mencegah fitnah?

Yang menjadi petaka adalah bahwa sebagian wanita menjadikannya sebagai cara menimbulkan fitnah. Mulailah mereka bermodel-model membuat bordiran dan kilapan. Kemudian abaya itu dikenakan dengan tutup kepala yang berkilau dengan tulisan nama di atasnya..!

Ah.., di manakah para lelaki yang punya rasa cemburu?

“Jika suatu kaum mendapat petaka pada akhlaknya
Maka kumpulkanlah orang untuk menangisi mereka”

Dan sebagian orang menganggap berkendaraannya seorang perempuan sendirian dengan seorang supir, sambil supir itu bersenang-senang dengan si perempuan ke mana-mana, sebagai perkara remeh.

Kemana perempuan itu pergi?

Dan yang parah lagi, apa yang kita saksikan mulai banyak menyebar di jalan-jalan. Yaitu berkendaraannya seorang perempuan di samping supir, berdampingan. Bukankah supir itu seorang laki-laki?

Bagaimana kalian ini?

Seorang laki-laki dari arab pedalaman keluar dalam suatu perjalanan. Ketika ia sampai di sebuah sungai, ternyata di situ ada seorang perempuan yang menyingkap rambutnya. Kemudian perempuan itu menggoda si laki-laki dan berkata: kemarilah! Laki-laki itu berkata: sesungguhnya aku takut kepada Allah Tuhan semesta alam. Maka perempuan itu mengenakan jilbabnya dan pergi dengan rasa takut dan cemas. Si laki-laki mengikutinya sampai perempuan itu tiba di perkemahan keluarganya. Si laki-laki bertanya tentang perempuan itu, maka ia pun diberitahu siapa ayah perempuan itu. Perempuan itu kemudian ia lamar dan ia nikahi. Lalu ia berkata: siapkanlah ia sampai aku kembali dari perjalananku. Ketika laki-laki itu masuk menemui si perempuan, setelah beberapa waktu, ia berkata: apa maksud kamu menggoda saya ketika itu?

Perempuan itu berkata: janganlah kamu heran dengan seorang gadis yang berkata: aku berhasrat padamu! Demi Allah, kalau memang ia sedang berhasrat pada seorang laki-laki hitam, maka laki-laki itulah hasratnya.”

Maka janganlah kalian berkata dengan perkataan orang-orang bodoh, bahwa supir itu bukan orang apa-apa. Karena berapa banyak wanita yang berkedudukan tinggi, jatuh di lumpur para lelaki rendahan yang bejat.

Dan sebagian wanita pergi dengan pakaian terbuka tanpa kendali dan aturan. Keluar kapan saja, masuk kapan saja semaunya. Apakah si laki-laki itu tidak bertanya pada dirinya sendiri, kemanakah istrinya pergi? Apakah mungkin laki-laki itu tidak tahu? Ataukah dia tahu tapi dia sudah sedemikian mengalah.

Sebagaimana sebagian pria juga tidak merasa enak untuk keluar bersama istrinya kecuali kalau istrinya itu berpakaian terbuka dan mutabarrij, dengan menyingkapkan wajah dan keindahan tubuhnya. Bukankah orang seperti ini keadaannya seperti orang yang berkata pada orang banyak: hei, kemarilah dan lihatlah istriku dan kehormatanku. Pemelihara kemuliaan dan kelaki-lakianku!

Duhai betapa mengherankannya!! Apakah seorang laki-laki bisa menjadikan kemuliaan dan kehormatannya sebagai barang pameran yang bisa dilihat dengan murah, bahkan gratisan..!

“Serigala-serigala itu hanya menerkam yang tak ada anjing penjaganya
Dan mereka akan menghindar dari kandang yang ketat penjagaannya”

(Bersambung insya Allah)

(Diterjemahkan oleh redaksi akhwat.web.id dari tautan: http://www.salemalajmi.com/main/play.php?catsmktba=138)

Share:
  • Facebook
  • Twitter
  • MySpace
  • RSS

PENJELASAN SEPULUH PEMBATAL KEISLAMAN (bahagian 3)

Oleh: Asy Syaikh Shalih bin Fauzan Al Fauzan

Pembatal Ketiga:

Barangsiapa tidak mengkafirkan orang-orang musyrik atau ragu tentang kekafiran mereka atau membenarkan madzhab mereka, maka dia telah kafir.

Penjelasan:
Masalah ini sangat berbahaya, banyak dari orang-orang yang menisbatkan diri kepada Islam terjatuh padanya (barangsiapa tidak mengkafirkan orang-orang musyrik) seperti mengatakan: “Saya, alhamdulillah tidak ada kesyirikan pada diri saya dan saya tidak berbuat syirik kepada Allah. Akan tetapi manusia (yang berbuat syirik) aku tidak mengkafirkan mereka.”

Kita katakan kepadanya:

Kamu tidak tahu agama ini, wajib bagimu untuk mengkafirkan orang yang telah Allah kafirkan dan yang telah berbuat syirik kepada Allah, wajib bagimu untuk berlepas diri darinya sebagaimana Nabi Ibrahim telah berlepas diri dari bapaknya dan kaumnya, beliau berkata (seabagaimana dalam ayat berikut ini):

وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ لأبِيهِ وَقَوْمِهِ إِنَّنِي بَرَاءٌ مِمَّا تَعْبُدُونَ * إِلا الَّذِي فَطَرَنِي فَإِنَّهُ سَيَهْدِينِ

“Sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kalian sembah, tetapi (aku beribadah kepada) Dzat yang telah menciptakanku, karena sesungguhnya Dia akan memberi hidayah kepadaku.” (Az Zukhruf: 26-27)

(atau membenarkan madzhab mereka) ini lebih berbahaya, apabila dia membenarkan madzhab mereka atau mengatakan terhadap apa yang mereka perbuat: perlu dilihat dulu, ini kan hanya menjadikan perantara-perantara. Atau dia mengatakan: “Mereka adalah orang-orang bodoh, mereka terjatuh dalam perkara ini karena kebodohan mereka,” dan dia membela mereka. Maka orang seperti ini kekafirannya lebih dahsyat dibandingkan orang-orang yang melakukan perbuatan syirik tersebut, karena dia membenarkan kekufuran dan kesyirikan atau ragu tentangnya.

Kita katakan kepada mereka:
Keadaanmu sebagai seorang muslim dan pengikut Rasul shallallahu alaihi wasallam, sedangkan Rasul shallallahu alaihi wasallam datang dengan mengkafirkan kaum musyrikin dan memerangi mereka serta menghalalkan harta dan darah mereka, beliau bersabda:

أُمِرْتُ أَنْ أُقَاتِلَ النَّاسَ ليَقُولُوا: لاإله إِلاَّ الله

“Aku diperintahkan untuk memerangi manusia agar mereka mengucapkan laa ilaaha ilallah.”

بُعِثْتُ بِالسَّيْفِ حَتَّى يُعْبَدُ الله

“Aku diutus sampai hanya Allah saja yang diibadahi.”

وَقَاتِلُوهُمْ حَتَّى لا تَكُونَ فِتْنَةٌ

“Dan perangilah mereka sampai tidak terjadi fitnah.” (Al-Anfal: 39)

Yang dimaksud fitnah dalam ayat ini adalah syirik.

وَيَكُونَ الدِّينُ كُلُّهُ لِلَّهِ

“Dan sampai agama ini seluruhnya untuk Allah.” (Al-Anfal: 39)

(Dinukil untuk Blog Ulama Sunnah www.ulamasunnah.wordpress.com dari 10 Pembatal Keislaman, karya Asy-Syaikh Shalih Al-Fauzan, penerjemah: Al-Ustadz Abu Hamzah Abdul Majid, Penerbit Cahaya Ilmu Press, Yogyakarta)

Sumber: http://akhwat.web.id/

Share:
  • Facebook
  • Twitter
  • MySpace
  • RSS

PENJELASAN SEPULUH PEMBATAL KEISLAMAN (bahagian 2)

Barangsiapa menjadikan antara dia dengan Allah perantara-perantara di mana dia berdoa, meminta dan bertawakal kepada mereka, maka dia telah kafir secara ijma’

Penjelasan:

Ini adalah salah satu dari jenis pembatal yang pertama, yaitu orang yang menjadikan antara dia dengan Allah ada perantara-perantara, akan tetapi Asy Syaikh rahimahullah memisahkannya dan menjadikannya sebagai pembatal keislaman yang tersendiri disebabkan banyak tejadinya perbuatan ini. Hal ini terjadi pada orang-orang yang mengaku Islam dan ini banyak terjadi pada para penyembah kubur; mereka mendekatkan diri kepada wali agar memberi syafa’at untuk mereka di sisi Allah atau agar menyampaikan kebutuhan-kebutuhan mereka kepada Allah –dengan persangkaan mereka- menjadikan perantara-perantara dari selain Allah subhanahu wata’ala, menyembelih untuk mereka, nadzar untuk mereka dan istighotsah dengan mereka.

Dan dia mengatakan: “Ini bukanlah syirik, ini hanyalah perantara, mencari perantara dan syafa’at yang bisa menyampaikanku kepada Allah. Ini adalah orang sholih yang punya kedudukan di sisi Allah, maka aku mendekatkan diri kepadanya agar dia mendekatkan diriku kepada Allah.” Ini adalah hujjahnya dan itu merupakan hujjah orang-orang musyrik yang terdahulu:

مَا نَعْبُدُهُمْ إِلا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَى

“Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata): “Kami tidak beribadah kepada mereka, melainkan agar mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya.” (Az Zumar: 3)

Mereka mengatakan: kami tidak menjadikan mereka sebagai tandingan bagi Allah, akan tetapi kami menjadikan mereka sebagai perantara yang mendekatkan diri kami (kepada Allah), padahal Allah telah menamainya sebagai syirik (Allah berfirman):

وَيَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لا يَضُرُّهُمْ وَلا يَنْفَعُهُمْ وَيَقُولُونَ هَؤُلاءِ شُفَعَاؤُنَا عِنْدَ اللَّهِ قُلْ أَتُنَبِّئُونَ اللَّهَ بِمَا لا يَعْلَمُ فِي السَّمَاوَاتِ وَلا فِي الأرْضِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عَمَّا يُشْرِكُونَ

“Dan mereka beribadah kepada selain Allah apa yang tidak dapat mendatangkan kemadharatan kepada mereka dan tidak (pula) mendatangkan kemanfaatan, dan mereka berkata: “Mereka itu adalah pemberi syafa’at kami di sisi Allah.” Katakanlah: “Apakah kamu mengabarkan kepada Allah apa yang tidak diketahuinya baik di langit dan di bumi?” Maha Suci Allah dan Maha Tinggi dari apa yang mereka mempersekutukan (itu).” (Yunus: 18)

Allah telah menamainya sebagai perbuatan syirik sedangkan mereka menamainya meminta syafa’at. Ini adalah realita yang terjadi, bahwasanya kebanyakan orang yang mengaku Islam dan apa yang mereka lakukan terhadap kuburan-kuburan sekarang, mereka menjadikannya sebagai perantara antara mereka dengan Allah.

Masalah ini tersamar atas kebanyakan orang, bahkan para penuntut ilmu dan di sana ada para ulama yang membela mereka dan mengatakan: “perkara ini bukanlah syirik, yang dimaksud syirik adalah beribadah kepada berhala dan mereka ini tidaklah beribadah kepada berhala.”

Ya Subhanallah, beribadah kepada berhala adalah salah satu jenis dari jenis-jenis perbuatan syirik. Yang dinamakan syirik adalah beribadah kepada selain Allah sama, saja apakah yang diibadahi berupa berhala, pohon, batu, kuburan, wali, malaikat ataupun orang-orang sholih, ini semua adalah syirik dan tidaklah yang dimaksud syirik itu hanya beribadah kepada berhala saja.

(Dinukil untuk Blog Ulama Sunnah www.ulamasunnah.wordpress.com dari 10 Pembatal Keislaman, karya Asy-Syaikh Shalih Al-Fauzan, penerjemah: Al-Ustadz Abu Hamzah Abdul Majid, Penerbit Cahaya Ilmu Press, Yogyakarta)

URL Sumber: http://ulamasunnah.wordpress.com/2008/11/14/pembatal-keislaman-2-menjadikan-perantara-antara-dia-dan-allah-dalam-peribadahan/

Sumber: http://akhwat.web.id

Share:
  • Facebook
  • Twitter
  • MySpace
  • RSS

PENJELASAN SEPULUH PEMBATAL KEISLAMAN (bahagian 1)

Oleh: Asy-Syaikh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan

An Nawaqidh adalah jamak dari Naqidh, yang dimaksud adalah pembatal-pembatal, seperti Nawaqidhul Wudhu yaitu pembatal-pembatal wudhu. Pembatal-pembatal Islam dinamakan dengan nawaqidh, juga dinamakan dengan sebab-sebab kemurtadan atau jenis-jenis kemurtadan. Dan mengetahui pembatal-pembatal Islam tersebut adalah perkara yang sangat penting bagi setiap muslim dalam rangka menjauhinya dan berhati-hati darinya, karena apabila seorang muslim tidak mengetahuinya dikhawatirkan dia akan terjatuh kepada sesuatu darinya dan ini termasuk perkara yang sangat berbahaya, karena hal tersebut adalah pembatal-pembatal Islam. Oleh karena itu mengetahui sebab-sebab kemurtadan dari Islam adalah perkara yang sangat penting sekali.

Murtad dari Islam maknanya mencabut kembali keislamannya, diambil dari fi’il madhinya irtadda (dia telah murtad) apabila dia mencabut kembali keislamannya.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَلا تَرْتَدُّوا عَلَى أَدْبَارِكُمْ فَتَنْقَلِبُوا خَاسِرِينَ

“Dan janganlah kalian kembali (lari) ke belakang (karena takut kepada musuh) maka kalian menjadi orang-orang yang merugi.” (Al Maidah: 21)

Dan Allah subhanahu wata’ala berfirman:

وَمَنْ يَرْتَدِدْ مِنْكُمْ عَنْ دِينِهِ فَيَمُتْ وَهُوَ كَافِرٌ فَأُولَئِكَ حَبِطَتْ أَعْمَالُهُمْ فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ وَأُولَئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ

“Dan barangsiapa yang murtad di antara kalian dari agamanya, lalu dia mati dalam kekafiran, maka mereka itulah yang sia-sia amalannya di dunia dan di akhirat dan mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya.” (Al-Baqarah: 217)

Ini merupakan peringatan keras dari Allah kepada orang-orang yang beriman, (Dan barangsiapa yang murtad diantara kalian) wahai orang-orang yang beriman (dari agamanya lalu dia mati dalam kekafiran) dan tidak bertaubat sebelum kematiannya dan kembali kepada Islam, maka sungguh (sia-sia amalan mereka) yaitu batal amalan-amalan mereka (di dunia dan di akhirat, mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya.)

Allah berfirman:

إِنَّ الَّذِينَ ارْتَدُّوا عَلَىٰ أَدْبَارِهِمْ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمُ الْهُدَى ۙ الشَّيْطَانُ سَوَّلَ لَهُمْ وَأَمْلَىٰ لَهُمْ

“Sesungguhnya orang-orang yang kembali ke belakang (kepada kekafiran) sesudah petunjuk itu jelas bagi mereka, syetan telah menjadikan mereka rendah (berbuat dosa) dan memanjangkan angan-angan mereka.” (Muhammad: 25)

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا مَنْ يَرْتَدَّ مِنْكُمْ عَنْ دِينِهِ فَسَوْفَ يَأْتِي اللَّهُ بِقَوْمٍ يُحِبُّهُمْ وَيُحِبُّونَهُ أَذِلَّةٍ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ أَعِزَّةٍ عَلَى الْكَافِرِينَ

“Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa diantara kalian murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan mereka pun mencintai Allah, bersikap lemah lembut terhadap orang-orang yang beriman, dan bersikap keras terhadap orang-orang kafir.” (Al-Maidah: 54)

(Dan barangsiapa yang murtad dari agamanya) yaitu mencabut kembali agamanya, dalam ayat ini terdapat peringatan yang keras dari kemurtadan dan ancaman atasnya.

Adapun (dalil-dalil) dari al Hadits:

Maka sungguh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda:

لاَ يَحِلُّ دَمُ امْرِئٍ مُسْلِمٍ إِلاَّ بِإِحْدَى ثَلاَثٍ: الثَّيِّبُ الزَّانِي، والنَّفْسُ بِالنَّفْسِ، والتَّارِكُ لِدِيْنِهِ –هذا هوالشاهد- المُفَارِقُ لِلْجَمَاعَةِ

“Tidak halal darah seorang muslim melainkan dengan salah satu dari tiga perkara: (1) orang yang telah menikah berzina, (2) jiwa dengan jiwa (qishosh), (3) orang yang meninggalkan agamanya –ini sisi pendalilannya- memisahkan diri dari al jama’ah.”1

Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

مَنْ بَدَّلَ دِيْنَهُ فَاقْتُلُوهُ
“Barangsiapa mengganti agamanya (murtad) maka bunuhlah dia.” (HR. Al Bukhari)2

Apabila yang murtad adalah satu kelompok yang memiliki kekuatan maka mereka diperangi, sebagaimana Abu Bakar Ash Shidiq radhiyallahu ‘anhu memerangi orang-orang yang murtad, sehingga beliau menundukkan mereka kepada Islam dan terbunuhlah sebagian mereka di atas kemurtadannya dan bertaubatlah sebagian mereka. Maka dengan Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu memerangi mereka, hal itu membenarkan firman Allah:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا مَنْ يَرْتَدَّ مِنْكُمْ عَنْ دِينِهِ فَسَوْفَ يَأْتِي اللَّهُ بِقَوْمٍ يُحِبُّهُمْ وَيُحِبُّونَهُ أَذِلَّةٍ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ أَعِزَّةٍ عَلَى الْكَافِرِينَ يُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلَا يَخَافُونَ لَوْمَةَ لَائِمٍۚ

“Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa diantara kalian murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan mereka pun mencintai Allah, bersikap lemah lembut terhadap orang-orang yang beriman, dan bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad di jalan Allah dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela.” (Al-Maidah: 54)

Para ulama berkata: “Ayat ini turun mengenai Abu Bakar dan para sahabatnya yang memerangi orang-orang murtad, karena dalam ayat ini Allah mengabarkan tentang perkara yang akan datang (barangsiapa yang murtad) ini tentang perkara yang akan datang (maka kelak Allah mendatangkan) Allah mendatangkan Abu Bakar Ash Shidiq radhiyallahu ‘anhu dan para sahabat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, kemudian mereka memerangi orang-orang murtad.

Namun apabila yang murtad adalah satu individu, maka dia diambil dan dimintai taubatnya, jika dia bertaubat diterima taubatnya, jika enggan maka dia dihukum dibunuh. Orang ini berbeda dengan orang yang asalnya memang kafir, karena orang yang murtad mengetahui kebenaran dan dia masuk ke dalam agama Allah dengan pilihan dan ketundukannya, dia juga mengakui bahwa Islam adalah agama yang benar. Apabila dia murtad maka ini adalah sikap mempermainkan agama dari orang tersebut, karena dia mengetahui kebenaran dan masuk ke dalamnya, apabila dia murtad maka dia dihukum dibunuh dalam rangka menjaga akidah, dan ini merupakan penjagaan terhadap Adh Dhoruriyaatul Khomsi (perkara-perkara penting yang lima)3, yang pertama yaitu agama.

Maka agama ini tidak boleh ditinggalkan karena bermain-main, bagi orang yang masuk Islam kemudian murtad, bahkan dia dibunuh sebagai penjagaan terhadap akidah dari permainan. Ada di antara orang-orang yang murtad dibunuh tanpa dimintai taubatnya, hal itu disebabkan karena besarnya kemurtadannya, dia dibunuh tanpa dimintai taubat sebagai penjagaan terhadap agama yang merupakan perkara pertama dari lima perkara penting yang Islam datang untuk menjaganya.

Mempelajari pembatal-pembatal ini sangat penting, para ulama menyusun karya-karya yang berkenaan dengannya, dan mereka menjadikan (pembahasan tentang-ed) pembatal-pembatal ini pada tempat yang khusus (bagian tersendiri-ed) dalam kitab-kitab fiqh yaitu (hukum murtad). Di dalam setiap kitab dari kitab-kitab fiqh mereka membuat satu kitab yang mereka namakan Kitab Hukmil Murtad (kitab tentang hukum orang yang murtad) atau Bab Hukmil Murtad (bab tentang hukum orang yang murtad) baik dalam karya-karya yang panjang maupun yang ringkas.

Para ulama berkata: Orang yang murtad adalah orang yang kafir setelah keislamannya, bisa jadi karena keyakinan hatinya atau keraguannya dalam perkara agama atau karena perbuatan, seperti sujud untuk selain Allah, menyembelih untuk selain Allah atau nadzar untuk selain Allah. Barangsiapa melakukan (perbuatan-perbuatan) ini berarti dia telah murtad. Atau karena ucapan seperti berbicara dengan mencela Allah, mencela Rasulullah shallallahu alaihi wasallam atau mencela agama Islam.

قُلْ أَبِاللَّهِ وَآيَاتِهِ وَرَسُولِهِ كُنْتُمْ تَسْتَهْزِئُونَ ,لَا تَعْتَذِرُوا قَدْ كَفَرْتُمْ بَعْدَ إِيمَانِكُمْ ۚ

“Katakanlah: Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kalian selalu berolok-olok, tidak usah kalian meminta maaf, karena sungguh kalian telah kafir setelah keimanan kalian.” (At Taubah: 65-66)

Maka murtad itu bisa terjadi karena ucapan, perbuatan, keyakinan atau karena ragu terhadap suatu perkara dari agama ini, seperti orang yang ragu tentang wajibnya sholat, wajibnya zakat atau ragu dalam masalah tauhid, maka dia dikafirkan. Yang dimaksud dengan ragu adalah berbolak-balik di antara 2 (dua) perkara.

Jenis-jenis murtad sangatlah banyak, dan Asy Syaikh rahimahullah menyebutkan dalam risalah ini yang paling penting dan paling besarnya, kalau tidak demikian maka pembatal-pembatal keislaman itu sangatlah banyak, kalian akan mendapatinya dalam kitab-kitab Fiqh bab Hukum Murtad. Asy Syaikh Abdullah bin Muhammad rahimahullah memiliki risalah yang berjudul al Kalimatun Nafi’ah fil Mukaffirotil Waqi’ah (kalimat-kaliamat yang bermanfaat tentang perkara-perkara yang dapat mengkafirkan yang terjadi pada realita) dan risalah ini tercetak dalam Ad Duror As Saniyah dan yang selainnya.

Saat ini, tatkala kebodohan telah tersebar dan keterasingan agama ini semakin kuat, sekelompok manusia yang menamakan diri mereka ulama memunculkan diri dan mengatakan:

“Jangan kalian mengkafirkan manusia, cukup bagi mereka nama Islam, cukup baginya untuk mengatakan, ‘Saya seorang muslim’, walaupun dia berbuat apa saja, walaupun dia menyembelih untuk selain Allah, walaupun dia mencela Allah dan Rasul-Nya, walaupun dia berbuat apa saja selama dia masih mengatakan, ‘Saya muslim!’ Maka jangan engkau kafirkan dia.”

Atas dasar ini maka akan masuk ke dalam nama Islam kelompok-kelompok sesat seperti Al Bathiniyah, Al Qaramithah, Al Quburiyun (para penyembah kubur), Ar Rafidhoh dan Al Qodyaniyah, serta akan masuk ke dalam nama Islam seluruh kelompok yang mengaku Islam.

Mereka mengatakan:

“Janganlah kalian mengkafirkan seorangpun walaupun dia berbuat apa saja atau berkeyakinan apa saja, janganlah kalian memecah belah kaum muslimin.”

Subhanallah (Maha Suci Allah)!!! Kami tidak memecah belah kaum muslimin, akan tetapi mereka itu bukanlah muslimin, karena tatkala mereka melakukan pembatal-pembatal keislaman berarti mereka telah keluar dari Islam.

Kalimat “janganlah kalian memecah belah kaum muslimin” adalah kalimat haq (benar) tapi yang diinginkan dengannya adalah kebatilan, karena para shahabat radhiyallahu ‘anhum memerangi orang-orang arab yang murtad sepeninggal Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.

Para shahabat tidak ada yang mengatakan,
“Jangan kalian memecah belah kaum muslimin”,

Karena mereka bukan muslimin lagi selama mereka masih murtad. Dan perkara ini lebih berat daripada engkau menghukumi orang kafir sebagai muslim, dan akan datang kepada kalian penjelasan bahwa termasuk kemurtadan adalah barangsiapa yang tidak mengkafirkan orang kafir atau ragu tentang kekafirannya maka dia kafir seperti orang kafir tersebut.

Mereka mengatakan:

“Janganlah kalian mengkafirkan seorangpun walaupun dia berbuat apa saja selama orang tersebut masih mengucapkan Laa ilaaha illallah. Silahkan kalian menghadapi orang-orang atheis dan tinggalkanlah orang-orang yang mengaku Islam.”

Kita katakan kepada mereka:

“Orang-orang yang mengaku Islam itu lebih berbahaya dari atheis, karena atheis tidak mengaku Islam dan tidak menganggap apa yang mereka lakukan adalah Islam. Adapun orang-orang yang mengaku Islam, mereka telah mengelabui, mereka menyerukan bahwa kekafiran itu adalah Islam, mereka itu lebih berbahaya daripada atheis, maka kemurtadan itu lebih berbahaya dari atheis -kita berlindung kepada Allah-.”

Maka wajib bagi kita mengetahui sikap yang benar terhadap perkara-perkara ini, kita membedakannya dan memperjelasnya, karena kita sekarang dalam kesamaran, di sana ada orang yang mengarang, menulis, mengkritik dan berpidato dan mengatakan: “Janganlah kalian mengkafirkan muslimin”.

Kita katakan: “Kami mengkafirkan orang-orang yang keluar dari Islam” adapun muslim maka tidak boleh mengkafirkannya.

(Dinukil untuk Blog Ulama Sunnah www. ulamasunnah.wordpress.com dari 10 Pembatal Keislaman, karya Asy-Syaikh Shalih Al-Fauzan, penerjemah: Al-Ustadz Abu Hamzah Abdul Majid, Penerbit Cahaya Ilmu Press, Yogyakarta)

Sumber: http://ulamasunnah.wordpress.com/2008/11/12/pembatal-keislaman-pendahuluan

Catatan Kaki:
1 Hadits dikeluarkan oleh al Bukhari (6878), Muslim (1676) dari hadits Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu anhu
2 Hadits dikeluarkan oleh al Bukhari (4/75), Abu Dawud (2/440), At Tirmidzi (6/243) dan Ahmad (1/282)
3 Lima perkara tersebut adalah: 1. Dien (agama ini) dan ini merupakan yang pertama dan yang paling utama 2. Jiwa 3. Akal 4. Harta benda dan 5. Nasab dan kehormatan diri (lihat penjelasan Penulis hafizhahullah dalam Durus Syarah Nawaqidul Islam)-ed

Sumber: http://akhwat.web.id

Share:
  • Facebook
  • Twitter
  • MySpace
  • RSS

PENJELASAN SEPULUH PEMBATAL KEISLAMAN (MUQADDIMAH)

Hati-hati dari Sepuluh Perusak Keislaman kita

Penulis: Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab Al-Washobi

Salah seorang ulama Ahlus Sunnah dari negeri Yaman, Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab Al-Washabi, menulis dalam kitab beliau yang ringkas “Al-Qaulul Mufid fi Adillati At-Tauhid”, sepuluh sebab yang menyebabkan batalnya keislaman seseorang. Tidak seperti batalnya jenis-jenis ibadah lain di dalam Islam yang tidak mengeluarkan seseorang dari agama, batalnya keislaman berakibat fatal kepada pelakunya di dunia dan di akhirat.

Sepuluh Pembatal Keislaman itu ialah:

1. Syirik
2. Murtad
3. Tidak mengkafirkan orang kafir
4. Meyakini kebenaran hukum thaghut
5. Membenci sunnah Rasul, meskipun diamalkan
6. Mengolok-ngolok agama
7. Sihir
8. Menolong orang kafir untuk memerangi kaum muslimin
9. Meyakini bolehnya keluar dari syariat Allah
10. Tidak mau mempelajari dan mengamalkan agama

Mari kita jadikan tulisan beliau sebagai bahan koreksi bagi kita semua, jangan sampai gara-gara kebodohan dan kelalaian kita selama ini keislaman kita sudah tidak lagi diakui Allah Ta’ala. Berikut adalah tulisan beliau yang sudah diringkas. (redaksi).

Pertama, Syirik kepada Allah, yaitu menjadikan perantara (sekutu) antara si hamba dengan Allah. Si hamba berdoa kepada para perantara ini, meminta syafa’at, bertawakkal, beristighatsah kepada mereka, bernazar untuk mereka, dan menyembelih kurban dengan menyebut nama mereka. Si hamba berkeyakinan segala perbuatannya tersebut dapat menolak mudharat atau mendatangkan manfaat. Orang yang semacam ini telah kafir.

Berfirman Allah Subhanahu wa Ta’ala,

إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ (48)

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya.” (An-Nisa: 48)

Dan firman Allah:

إِنَّهُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَار

“Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun.” (Al Maidah: 72)

Kedua, murtad dari Islam. Masuk dan memeluk agama Yahudi, Nasrani, Majusi, Komunisme, Ba’tsi, paham sekuler, Freemasonry, dan faham-faham kufur lainnya.

Allah berfirman:

وَلَا يَزَالُونَ يُقَاتِلُونَكُمْ حَتَّى يَرُدُّوكُمْ عَنْ دِينِكُمْ إِنِ اسْتَطَاعُوا وَمَنْ يَرْتَدِدْ مِنْكُمْ عَنْ دِينِهِ فَيَمُتْ وَهُوَ كَافِرٌ فَأُولَئِكَ حَبِطَتْ أَعْمَالُهُمْ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ وَأُولَئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ

“Mereka tidak henti-hentinya memerangi kamu sampai mereka (dapat) mengembalikan kamu dari agamamu (kepada kekafiran), seandainya mereka sanggup. Barangsiapa yang murtad di antara kamu dari agamanya, lalu dia mati dalam kekafiran, maka mereka itulah yang sia-sia amalannya di dunia dan di akhirat, dan mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya.” (Al-Baqarah, 217)

Allah Ta’ala berfirman:

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا مَنْ يَرْتَدَّ مِنْكُمْ عَنْ دِينِهِ فَسَوْفَ يَأْتِي اللَّهُ بِقَوْمٍ يُحِبُّهُمْ وَيُحِبُّونَهُ أَذِلَّةٍ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ أَعِزَّةٍ عَلَى الْكَافِرِينَ يُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلَا يَخَافُونَ لَوْمَةَ لَائِمٍ ذَلِكَ فَضْلُ اللَّهِ يُؤْتِيهِ مَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ

“Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintai-Nya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mu’min, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad di jalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui..” (Al Maidah: 54)

Allah Ta’ala berfirman:

إِنَّ الَّذِينَ ارْتَدُّوا عَلَى أَدْبَارِهِمْ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمُ الْهُدَى الشَّيْطَانُ سَوَّلَ لَهُمْ وَأَمْلَى لَهُمْ(25)ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ قَالُوا لِلَّذِينَ كَرِهُوا مَا نَزَّلَ اللَّهُ سَنُطِيعُكُمْ فِي بَعْضِ الْأَمْرِ وَاللَّهُ يَعْلَمُ إِسْرَارَهُمْ(26)فَكَيْفَ إِذَا تَوَفَّتْهُمُ الْمَلَائِكَةُ يَضْرِبُونَ وُجُوهَهُمْ وَأَدْبَارَهُمْ(27)ذَلِكَ بِأَنَّهُمُ اتَّبَعُوا مَا أَسْخَطَ اللَّهَ وَكَرِهُوا رِضْوَانَهُ فَأَحْبَطَ أَعْمَالَهُمْ(28)أَمْ حَسِبَ الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ أَنْ لَنْ يُخْرِجَ اللَّهُ أَضْغَانَهُمْ(29) وَلَوْ نَشَاءُ لَأَرَيْنَاكَهُمْ فَلَعَرَفْتَهُمْ بِسِيمَاهُمْ وَلَتَعْرِفَنَّهُمْ فِي لَحْنِ الْقَوْلِ وَاللَّهُ يَعْلَمُ أَعْمَالَكُمْ(30)

“Sesungguhnya orang-orang yang kembali ke belakang (kepada kekafiran) sesudah petunjuk itu jelas bagi mereka, syaitan telah menjadikan mereka mudah (berbuat dosa) dan memanjangkan angan-angan mereka. Yang demikian itu karena sesungguhnya mereka (orang-orang munafik) itu berkata kepada orang-orang yang benci kepada apa yang diturunkan Allah (orang-orang Yahudi): “Kami akan mematuhi kamu dalam beberapa urusan”, sedang Allah mengetahui rahasia mereka. Bagaimanakah (keadaan mereka) apabila malaikat (maut) mencabut nyawa mereka seraya memukul muka mereka dan punggung mereka? Yang demikian itu adalah karena sesungguhnya mereka mengikuti apa yang menimbulkan kemurkaan Allah dan (karena) mereka membenci (apa yang menimbulkan) keridhaan-Nya; sebab itu Allah menghapus (pahala) amal-amal mereka. Atau apakah orang-orang yang ada penyakit dalam hatinya mengira bahwa Allah tidak akan menampakkan kedengkian mereka? Dan kalau Kami menghendaki, niscaya Kami tunjukkan mereka kepadamu sehingga kamu benar-benar dapat mengenal mereka dengan tanda-tandanya. Dan kamu benar-benar akan mengenal mereka dari kiasan-kiasan perkataan mereka dan Allah mengetahui perbuatan-perbuatan kamu.” (Muhammad, 25-30)

Dan Allah berfirman,

الْيَوْمَ أُحِلَّ لَكُمُ الطَّيِّبَاتُ وَطَعَامُ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ حِلٌّ لَكُمْ وَطَعَامُكُمْ حِلٌّ لَهُمْ وَالْمُحْصَنَاتُ مِنَ الْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُحْصَنَاتُ مِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلِكُمْ إِذَا ءَاتَيْتُمُوهُنَّ أُجُورَهُنَّ مُحْصِنِينَ غَيْرَ مُسَافِحِينَ وَلَا مُتَّخِذِي أَخْدَانٍ وَمَنْ يَكْفُرْ بِالْإِيمَانِ فَقَدْ حَبِطَ عَمَلُهُ وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ(5)

“Pada hari ini dihalalkan bagimu yang baik-baik. Makanan (sembelihan) orang-orang yang diberi Al Kitab itu halal bagimu, dan makanan kamu halal pula bagi mereka. (Dan dihalalkan mengawini) wanita-wanita yang menjaga kehormatan di antara wanita-wanita yang beriman dan wanita-wanita yang menjaga kehormatan di antara orang-orang yang diberi Al Kitab sebelum kamu, bila kamu telah membayar mas kawin mereka dengan maksud menikahinya, tidak dengan maksud berzina dan tidak (pula) menjadikannya gundik-gundik. Barangsiapa yang kafir sesudah beriman (tidak menerima hukum-hukum Islam) maka hapuslah amalannya dan ia di hari akhirat termasuk orang-orang merugi.” (Al Maidah ayat 5)

Dari Ibnu Abbas Rahuma katanya: “Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Barangsiapa yang mengubah agamanya, maka bunuhlah dia!’”(Riwayat Bukhari, No. 2854)

Dari Abdullah bin Mas’ud RA, beliau berkata: “Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam bersabda: ‘Tidak halal (menumpahkan darah seorang muslim) yang bersaksi bahwa tidak ada yang berhak diibadahi dengan benar kecuali Allah, dan bersaksi pula bahwa aku adalah utusan Allah, kecuali dengan tiga perkara: orang sudah menikah tapi berzina, orang yang membunuh jiwa (tanpa hak), dan orang yang meninggalkan agama dan memisahkan diri dari jamaah.” (Bukhari 6484, Muslim 1674)

Ketiga, tidak mengkafirkan orang yang jelas-jelas kafir. Baik itu Yahudi, Nasrani (Kristen/Katolik), Majusi, Musyrik, Atheis, atau lainnya dari jenis bentuk kekufuran. Atau, meragukan kekafiran mereka, membenarkan mazhab dan pemikiran mereka. Yang demikian ini juga dihukumi kafir. Allah sendiri telah mengkafirkan, namun orang ini menentang dengan mengambil sikap yang berlawanan dengan ketentuan Allah dan Rasul-Nya. Karena itu, tidak mengkafirkan orang yang dikafirkan Allah, ragu, dan bahkan membenarkan mazhab mereka, sama dengan artinya berpaling dari keputusan Allah.

Allah berfirman:

إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ وَالْمُشْرِكِينَ فِي نَارِ جَهَنَّمَ خَالِدِينَ فِيهَا أُولَئِكَ هُمْ شَرُّ الْبَرِيَّةِ(6)

“Sesungguhnya orang-orang kafir yakni ahli Kitab dan orang-orang musyrik (akan masuk) ke neraka Jahannam; mereka kekal di dalamnya. Mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk.” (Al-Bayyinah: 6)

Yang dimaksud dengan ahli kitab adalah Yahudi dan Nasrani. Sedangkan yang dimaksud dengan musyrikin ialah orang yang menyembah Allah sekaligus menyembah sesembahan yang lain.

Allah berfirman:

لَقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ هُوَ الْمَسِيحُ ابْنُ مَرْيَمَ قُلْ فَمَنْ يَمْلِكُ مِنَ اللَّهِ شَيْئًا إِنْ أَرَادَ أَنْ يُهْلِكَ الْمَسِيحَ ابْنَ مَرْيَمَ وَأُمَّهُ وَمَنْ فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا وَلِلَّهِ مُلْكُ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا يخْلُقُ مَا يَشَاءُ وَاللَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ(17)

“Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: “Sesungguhnya Allah itu ialah Al Masih putera Maryam”. Katakanlah: “Maka siapakah (gerangan) yang dapat menghalang-halangi kehendak Allah, jika Dia hendak membinasakan Al Masih putera Maryam itu beserta ibunya dan seluruh orang-orang yang berada di bumi semuanya?” Kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi dan apa yang di antara keduanya; Dia menciptakan apa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (Al-Maidah: 17)

لَقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ هُوَ الْمَسِيحُ ابْنُ مَرْيَمَ وَقَالَ الْمَسِيحُ يَابَنِي إِسْرَائِيلَ اعْبُدُوا اللَّهَ رَبِّي وَرَبَّكُمْ إِنَّهُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ

“Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: “Sesungguhnya Allah adalah Al Masih putera Maryam”, padahal Al Masih (sendiri) berkata: “Hai Bani Israil, sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu” Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun.” (Al-Maidah: 72)

Allah berfirman

لَقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ ثَالِثُ ثَلَاثَةٍ وَمَا مِنْ إِلَهٍ إِلَّا إِلَهٌ وَاحِدٌ وَإِنْ لَمْ يَنْتَهُوا عَمَّا يَقُولُونَ لَيَمَسَّنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ(73)

“Sesungguhnya kafirlah orang-orang yang mengatakan: “Bahwasanya Allah salah satu dari yang tiga”, padahal sekali-kali tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Tuhan Yang Esa. Jika mereka tidak berhenti dari apa yang mereka katakan itu, pasti orang-orang yang kafir di antara mereka akan ditimpa siksaan yang pedih.” (Al-Maidah: 73)

Allah berfirman

إِنَّ الَّذِينَ يَكْفُرُونَ بِاللَّهِ وَرُسُلِهِ وَيُرِيدُونَ أَنْ يُفَرِّقُوا بَيْنَ اللَّهِ وَرُسُلِهِ وَيَقُولُونَ نُؤْمِنُ بِبَعْضٍ وَنَكْفُرُ بِبَعْضٍ وَيُرِيدُونَ أَنْ يَتَّخِذُوا بَيْنَ ذَلِكَ سَبِيلًا(150)أُولَئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ حَقًّا وَأَعْتَدْنَا لِلْكَافِرِينَ عَذَابًا مُهِينًا(151)

“Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada Allah dan rasu-rasul-Nya, dan bermaksud memperbedakan antara (keimanan kepada) Allah dan rasul-rasul-Nya, dengan mengatakan: “Kami beriman kepada yang sebahagian dan kami kafir terhadap sebahagian (yang lain)”, serta bermaksud (dengan perkataan itu) mengambil jalan (tengah) di antara yang demikian (iman atau kafir), merekalah orang-orang yang kafir sebenar-benarnya. Kami telah menyediakan untuk orang-orang yang kafir itu siksaan yang menghinakan.” (An-Nisa: 150-151)

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَقَدْ نَزَّلَ عَلَيْكُمْ فِي الْكِتَابِ أَنْ إِذَا سَمِعْتُمْ ءَايَاتِ اللَّهِ يُكْفَرُ بِهَا وَيُسْتَهْزَأُ بِهَا فَلَا تَقْعُدُوا مَعَهُمْ حَتَّى يَخُوضُوا فِي حَدِيثٍ غَيْرِهِ إِنَّكُمْ إِذًا مِثْلُهُمْ إِنَّ اللَّهَ جَامِعُ الْمُنَافِقِينَ وَالْكَافِرِينَ فِي جَهَنَّمَ جَمِيعًا(140)

“Dan sungguh Allah telah menurunkan kepada kamu di dalam Al Qur’an bahwa apabila kamu mendengar ayat-ayat Allah diingkari dan diperolok-olokkan (oleh orang-orang kafir), maka janganlah kamu duduk beserta mereka, sehingga mereka memasuki pembicaraan yang lain. Karena sesungguhnya (kalau kamu berbuat demikian), tentulah kamu serupa dengan mereka. Sesungguhnya Allah akan mengumpulkan semua orang-orang munafik dan orang-orang kafir di dalam Jahannam,” (An-Nisa’: 140)

Keempat, orang yang meyakini bahwa petunjuk selain Nabi lebih sempurna daripada petunjuk beliau. Atau, meyakini bahwa hukum selain hukumnya lebih baik. Seperti orang-orang yang lebih mengutamakan hukum thagut daripada hukum-hukum-Nya. Termasuk ke dalamnya orang yang beryakinan bahwa aturan dan perundangan yang dibuat oleh manusia lebih utama daripada syariat Islam. Atau, meyakini bahwa hukum-hukum Islam tidak layak diterapkan pada masa sekarang. Atau, meyakini bahwa Islam merupakan penyebab kemunduran kaum muslimin.

Atau, meyakini bahwa Islam itu sebatas hubungan seorang hamba dengan tuhannya, dan tidak mencakup perkara-perkara kehidupan lainnya.

Termasuk dalam kategori ini adalah orang yang berpandangan bahwa pelaksanaan hukum Allah dalam masalah memotong tangan pencuri, atau merajam pelaku zina muhshan (yang sudah pernah nikah, red), tidak relevan dengan kondisi sekarang.

Juga termasuk ke dalamnya orang yang meyakini bolehnya berhukum dengan selain hukum Allah dalam muamalah, penerapan hukum pidana, dan yang lainnya. Meskipun dia tidak meyakini bahwa hal itu lebih baik daripada hukum yang ditetapkan oleh syariat Islam. Lantaran dengan begitu dia telah menghalalkan apa yang diharamkan oleh Allah. Dan setiap orang yang menghalalkan apa yang diharamkan Allah dan Rasul-Nya dari perkara-perkara agama yang sudah pasti secara ijma’ seperti zina, riba, khamr, dan berhukum dengan selain syariat Allah maka dia itu kafir berdasarkan kesepakatan kaum muslimin.

Allah Ta’ala berfirman:

أَفَحُكْمَ الْجَاهِلِيَّةِ يَبْغُونَ وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللَّهِ حُكْمًا لِقَوْمٍ يُوقِنُونَ(50)

“Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?” (Al-Maidah: 50)

إِنَّا أَنْزَلْنَا التَّوْرَاةَ فِيهَا هُدًى وَنُورٌ يَحْكُمُ بِهَا النَّبِيُّونَ الَّذِينَ أَسْلَمُوا لِلَّذِينَ هَادُوا وَالرَّبَّانِيُّونَ وَالْأَحْبَارُ بِمَا اسْتُحْفِظُوا مِنْ كِتَابِ اللَّهِ وَكَانُوا عَلَيْهِ شُهَدَاءَ فَلَا تَخْشَوُا النَّاسَ وَاخْشَوْنِ وَلَا تَشْتَرُوا بِآيَاتِي ثَمَنًا قَلِيلًا وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ(44)

“Sesungguhnya Kami telah menurunkan Kitab Taurat di dalamnya (ada) petunjuk dan cahaya (yang menerangi), yang dengan Kitab itu diputuskan perkara orang-orang Yahudi oleh nabi-nabi yang menyerah diri kepada Allah, oleh orang-orang alim mereka dan pendeta-pendeta mereka, disebabkan mereka diperintahkan memelihara kitab-kitab Allah dan mereka menjadi saksi terhadapnya. Karena itu janganlah kamu takut kepada manusia, (tetapi) takutlah kepada-Ku. Dan janganlah kamu menukar ayat-ayat-Ku dengan harga yang sedikit. Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir.” (Al-Maidah: 44)

وَكَتَبْنَا عَلَيْهِمْ فِيهَا أَنَّ النَّفْسَ بِالنَّفْسِ وَالْعَيْنَ بِالْعَيْنِ وَالْأَنْفَ بِالْأَنْفِ وَالْأُذُنَ بِالْأُذُنِ وَالسِّنَّ بِالسِّنِّ وَالْجُرُوحَ قِصَاصٌ فَمَنْ تَصَدَّقَ بِهِ فَهُوَ كَفَّارَةٌ لَهُ وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ(45)

“Dan kami telah tetapkan terhadap mereka di dalamnya (At Taurat) bahwasanya jiwa (dibalas) dengan jiwa, mata dengan mata, hidung dengan hidung, telinga dengan telinga, gigi dengan gigi, dan luka-luka (pun) ada kisasnya. Barangsiapa yang melepaskan (hak kisas) nya, maka melepaskan hak itu (menjadi) penebus dosa baginya. Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang zalim.” (Al-Maidah: 45)

وَلْيَحْكُمْ أَهْلُ الْإِنْجِيلِ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فِيهِ وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ(47)

“Dan hendaklah orang-orang pengikut Injil, memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah di dalamnya. Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang fasik.” (Al-Maidah: 47)

إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الْإِسْلَامُ وَمَا اخْتَلَفَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ إِلَّا مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَهُمُ الْعِلْمُ بَغْيًا بَيْنَهُمْ وَمَنْ يَكْفُرْ بِآيَاتِ اللَّهِ فَإِنَّ اللَّهَ سَرِيعُ الْحِسَابِ(19)

“Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam. Tiada berselisih orang-orang yang telah diberi Al Kitab kecuali sesudah datang pengetahuan kepada mereka, karena kedengkian (yang ada) di antara mereka. Barangsiapa yang kafir terhadap ayat-ayat Allah maka sesungguhnya Allah sangat cepat hisab-Nya.” (Ali Imran: 19)

وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ(85)

“Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.” (Ali Imran: 85)

إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا بِآيَاتِنَا سَوْفَ نُصْلِيهِمْ نَارًا كُلَّمَا نَضِجَتْ جُلُودُهُمْ بَدَّلْنَاهُمْ جُلُودًا غَيْرَهَا لِيَذُوقُوا الْعَذَابَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَزِيزًا حَكِيمًا(56)

“Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Kami, kelak akan Kami masukkan mereka ke dalam neraka. Setiap kali kulit mereka hangus, Kami ganti kulit mereka dengan kulit yang lain, supaya mereka merasakan azab. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (Ali Imran: 56)

فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّى يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا(65)

“Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” (An Nisaa: 65)

Kelima, orang yang membenci apa yang dibawa oleh Rasul Shallallahu ‘alaihi wasallam. Kendati dia tetap mengamalkannya. Maka, orang ini dihukumi kafir.

وَالَّذِينَ كَفَرُوا فَتَعْسًا لَهُمْ وَأَضَلَّ أَعْمَالَهُمْ(8)ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ كَرِهُوا مَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأَحْبَطَ أَعْمَالَهُمْ(9)

“Dan orang-orang yang kafir maka kecelakaanlah bagi mereka dan Allah menghapus amal-amal mereka. Yang demikian itu adalah karena sesungguhnya mereka benci kepada apa yang diturunkan Allah (Al Qur’an) lalu Allah menghapuskan (pahala-pahala) amal-amal mereka.” (Muhammad: 8-9)

إِنَّ الَّذِينَ ارْتَدُّوا عَلَى أَدْبَارِهِمْ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمُ الْهُدَى الشَّيْطَانُ سَوَّلَ لَهُمْ وَأَمْلَى لَهُمْ(25)ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ قَالُوا لِلَّذِينَ كَرِهُوا مَا نَزَّلَ اللَّهُ سَنُطِيعُكُمْ فِي بَعْضِ الْأَمْرِ وَاللَّهُ يَعْلَمُ إِسْرَارَهُمْ(26)فَكَيْفَ إِذَا تَوَفَّتْهُمُ الْمَلَائِكَةُ يَضْرِبُونَ وُجُوهَهُمْ وَأَدْبَارَهُمْ(27)ذَلِكَ بِأَنَّهُمُ اتَّبَعُوا مَا أَسْخَطَ اللَّهَ وَكَرِهُوا رِضْوَانَهُ فَأَحْبَطَ أَعْمَالَهُمْ(28)

“Sesungguhnya orang-orang yang kembali ke belakang (kepada kekafiran) sesudah petunjuk itu jelas bagi mereka, syaitan telah menjadikan mereka mudah (berbuat dosa) dan memanjangkan angan-angan mereka. Yang demikian itu karena sesungguhnya mereka (orang-orang munafik) itu berkata kepada orang-orang yang benci kepada apa yang diturunkan Allah (orang-orang Yahudi): “Kami akan mematuhi kamu dalam beberapa urusan”, sedang Allah mengetahui rahasia mereka. Bagaimanakah (keadaan mereka) apabila malaikat (maut) mencabut nyawa mereka seraya memukul muka mereka dan punggung mereka? Yang demikian itu adalah karena sesungguhnya mereka mengikuti apa yang menimbulkan kemurkaan Allah dan (karena) mereka membenci (apa yang menimbulkan) keridhaan-Nya; sebab itu Allah menghapus (pahala) amal-amal mereka.” (Muhammad: 25-28)

Keenam, orang yang memperolok-olok Allah atau Rasul-Nya, Al-Qur`an, agama Islam, malaikat, dan para ulama yakni ilmu yang dihasung ulama tersebut. Atau, memperolok-olok salah satu syiar Islam, seperti shalat, zakat, puasa, haji, thawaf di Ka’bah, wukuf di Arafah, masjid, azan, jenggot, sunnah-sunnah Nabi, dan lain-lain dari syiar-syiar Allah dan kesucian Islam, maka orang yang semacam ini dihukumi kafir.

وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ لَيَقُولُنَّ إِنَّمَا كُنَّا نَخُوضُ وَنَلْعَبُ قُلْ أَبِاللَّهِ وَءَايَاتِهِ وَرَسُولِهِ كُنْتُمْ تَسْتَهْزِئُونَ(65)لَا تَعْتَذِرُوا قَدْ كَفَرْتُمْ بَعْدَ إِيمَانِكُمْ إِنْ نَعْفُ عَنْ طَائِفَةٍ مِنْكُمْ نُعَذِّبْ طَائِفَةً بِأَنَّهُمْ كَانُوا مُجْرِمِينَ(66)

“Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentulah mereka akan menjawab: “Sesungguhnya kami hanyalah bersenda gurau dan bermain-main saja”. Katakanlah: “Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?” Tidak usah kamu minta ma`af, karena kamu kafir sesudah beriman. Jika Kami mema`afkan segolongan daripada kamu (lantaran mereka taubat), niscaya Kami akan mengazab golongan (yang lain) disebabkan mereka adalah orang-orang yang selalu berbuat dosa.” (At-Taubah: 65,66)

إِنَّ الَّذِينَ أَجْرَمُوا كَانُوا مِنَ الَّذِينَ ءَامَنُوا يَضْحَكُونَ(29)وَإِذَا مَرُّوا بِهِمْ يَتَغَامَزُونَ(30)وَإِذَا انْقَلَبُوا إِلَى أَهْلِهِمُ انْقَلَبُوا فَكِهِينَ(31)وَإِذَا رَأَوْهُمْ قَالُوا إِنَّ هَؤُلَاءِ لَضَالُّونَ(32)وَمَا أُرْسِلُوا عَلَيْهِمْ حَافِظِينَ(33)فَالْيَوْمَ الَّذِينَ ءَامَنُوا مِنَ الْكُفَّارِ يَضْحَكُونَ(34)عَلَى الْأَرَائِكِ يَنْظُرُونَ(35)هَلْ ثُوِّبَ الْكُفَّارُ مَا كَانُوا يَفْعَلُونَ(36)

“Sesungguhnya orang-orang yang berdosa, adalah mereka yang dahulunya (di dunia) menertawakan orang-orang yang beriman. Dan apabila orang-orang yang beriman lalu di hadapan mereka, mereka saling mengedip-ngedipkan matanya. Dan apabila orang-orang berdosa itu kembali kepada kaumnya, mereka kembali dengan gembira. Dan apabila mereka melihat orang-orang mu’min, mereka mengatakan: “Sesungguhnya mereka itu benar-benar orang-orang yang sesat”, padahal orang-orang yang berdosa itu tidak dikirim untuk penjaga bagi orang-orang mu’min. Maka pada hari ini, orang-orang yang beriman menertawakan orang-orang kafir, mereka (duduk) di atas dipan-dipan sambil memandang. Sesungguhnya orang-orang kafir telah diberi ganjaran terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan.” (Muthaffifin: 29-36)

وَإِذَا رَأَيْتَ الَّذِينَ يَخُوضُونَ فِي ءَايَاتِنَا فَأَعْرِضْ عَنْهُمْ حَتَّى يَخُوضُوا فِي حَدِيثٍ غَيْرِهِ وَإِمَّا يُنْسِيَنَّكَ الشَّيْطَانُ فَلَا تَقْعُدْ بَعْدَ الذِّكْرَى مَعَ الْقَوْمِ الظَّالِمِينَ(68)

“Dan apabila kamu melihat orang-orang memperolok-olokkan ayat-ayat Kami, maka tinggalkanlah mereka sehingga mereka membicarakan pembicaraan yang lain. Dan jika syaitan menjadikan kamu lupa (akan larangan ini), maka janganlah kamu duduk bersama orang-orang yang zalim itu sesudah teringat (akan larangan itu).” (Al-An’am: 68)

وَقَدْ نَزَّلَ عَلَيْكُمْ فِي الْكِتَابِ أَنْ إِذَا سَمِعْتُمْ ءَايَاتِ اللَّهِ يُكْفَرُ بِهَا وَيُسْتَهْزَأُ بِهَا فَلَا تَقْعُدُوا مَعَهُمْ حَتَّى يَخُوضُوا فِي حَدِيثٍ غَيْرِهِ إِنَّكُمْ إِذًا مِثْلُهُمْ إِنَّ اللَّهَ جَامِعُ الْمُنَافِقِينَ وَالْكَافِرِينَ فِي جَهَنَّمَ جَمِيعًا(140)

“Dan sungguh Allah telah menurunkan kepada kamu di dalam Al Qur’an bahwa apabila kamu mendengar ayat-ayat Allah diingkari dan diperolok-olokkan (oleh orang-orang kafir), maka janganlah kamu duduk beserta mereka, sehingga mereka memasuki pembicaraan yang lain. Karena sesungguhnya (kalau kamu berbuat demikian), tentulah kamu serupa dengan mereka. Sesungguhnya Allah akan mengumpulkan semua orang-orang munafik dan orang-orang kafir di dalam Jahannam,” (An-Nisa’: 140)

ذَلِكَ وَمَنْ يُعَظِّمْ حُرُمَاتِ اللَّهِ فَهُوَ خَيْرٌ لَهُ عِنْدَ رَبِّهِ وَأُحِلَّتْ لَكُمُ الْأَنْعَامُ إِلَّا مَا يُتْلَى عَلَيْكُمْ فَاجْتَنِبُوا الرِّجْسَ مِنَ الْأَوْثَانِ وَاجْتَنِبُوا قَوْلَ الزُّورِ(30)

“Demikianlah (perintah Allah). Dan barangsiapa mengagungkan apa-apa yang terhormat di sisi Allah maka itu adalah lebih baik baginya di sisi Tuhannya. Dan telah dihalalkan bagi kamu semua binatang ternak, terkecuali yang diterangkan kepadamu keharamannya, maka jauhilah olehmu berhala-berhala yang najis itu dan jauhilah perkataan-perkataan dusta.”(Al-Hajj: 30)

ذَلِكَ وَمَنْ يُعَظِّمْ شَعَائِرَ اللَّهِ فَإِنَّهَا مِنْ تَقْوَى الْقُلُوبِ(32)

“Demikianlah (perintah Allah). Dan barangsiapa mengagungkan syi`ar-syi`ar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati.” (Al-Hajj: 32)

Ketujuh, sihir. Di antaranya ialah ash-sharf dan al-‘athf. Adapun ash-sharf ialah praktik sihir yang bertujuan mengubah hasrat dan keinginan manusia, seperti memalingkan kecintaan seorang suami kepada istrinya, dan sebaliknya. Adapun al-athf ialah praktik sihir yang dapat membuat orang menjadi cenderung mencintai sesuatu yang tadinya biasa-biasa saja dengan cara-cara syaitan.

وَاتَّبَعُوا مَا تَتْلُو الشَّيَاطِينُ عَلَى مُلْكِ سُلَيْمَانَ وَمَا كَفَرَ سُلَيْمَانُ وَلَكِنَّ الشَّيَاطِينَ كَفَرُوا يُعَلِّمُونَ النَّاسَ السِّحْرَ وَمَا أُنْزِلَ عَلَى الْمَلَكَيْنِ بِبَابِلَ هَارُوتَ وَمَارُوتَ وَمَا يُعَلِّمَانِ مِنْ أَحَدٍ حَتَّى يَقُولَا إِنَّمَا نَحْنُ فِتْنَةٌ فَلَا تَكْفُرْ فَيَتَعَلَّمُونَ مِنْهُمَا مَا يُفَرِّقُونَ بِهِ بَيْنَ الْمَرْءِ وَزَوْجِهِ وَمَا هُمْ بِضَارِّينَ بِهِ مِنْ أَحَدٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ وَيَتَعَلَّمُونَ مَا يَضُرُّهُمْ وَلَا يَنْفَعُهُمْ وَلَقَدْ عَلِمُوا لَمَنِ اشْتَرَاهُ مَا لَهُ فِي الْآخِرَةِ مِنْ خَلَاقٍوَلَبِئْسَ مَا شَرَوْا بِهِ أَنْفُسَهُمْ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ(102)

“Dan mereka mengikuti apa yang dibaca oleh syaitan-syaitan pada masa kerajaan Sulaiman (dan mereka mengatakan bahwa Sulaiman itu mengerjakan sihir), padahal Sulaiman tidak kafir (tidak mengerjakan sihir), hanya syaitan-syaitan itulah yang kafir (mengerjakan sihir). Mereka mengajarkan sihir kepada manusia dan apa yang diturunkan kepada dua orang malaikat di negeri Babil yaitu Harut dan Marut, sedang keduanya tidak mengajarkan (sesuatu) kepada seorangpun sebelum mengatakan: “Sesungguhnya kami hanya cobaan (bagimu), sebab itu janganlah kamu kafir”. Maka mereka mempelajari dari kedua malaikat itu apa yang dengan sihir itu, mereka dapat menceraikan antara seorang (suami) dengan isterinya. Dan mereka itu (ahli sihir) tidak memberi mudharat dengan sihirnya kepada seorangpun kecuali dengan izin Allah. Dan mereka mempelajari sesuatu yang memberi mudharat kepadanya dan tidak memberi manfaat. Demi, sesungguhnya mereka telah meyakini bahwa barangsiapa yang menukarnya (kitab Allah) dengan sihir itu, tiadalah baginya keuntungan di akhirat dan amat jahatlah perbuatan mereka menjual dirinya dengan sihir, kalau mereka mengetahui.” (Al-Baqarah: 102)

Dari Abdullah bin Mas’ud Radiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya jampi-jampi, tamimah (Penangkal pada anak-anak untuk menolak penyakit ‘ain atau bala, red), dan thiwalah (Semacam jimat supaya suami cinta istri atau sebaliknya , red) itu syirik.” (Riwayat Abu Dawud No.3883, dihasankan Syaikh Muqbil dalam Ash-Shahihul Musnad II/17-18, dishahihkan Syaikh Al-Albani dalam Shahihul Jami’ No.1632 dan di dalam Silsilah Ash-Shahihah No.331, dan dishahihkan Imam Hakim IV/217 dan disepakati oleh Imam Adz-Dzahabi, juga diriwayatkan Ibnu Majah No.3530, Thabrani dalam Al-Kabir X/262, Ibnu Hibban XIII/456, Al-Baihaqi IX/350)

Kedelapan, membantu orang-orang kafir memerangi kaum muslimin.

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا لَا تَتَّخِذُوا الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى أَوْلِيَاءَ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ مِنْكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ(51)

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin (mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.” (Al-Maidah: 51)

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا إِنْ تُطِيعُوا فَرِيقًا مِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ يَرُدُّوكُمْ بَعْدَ إِيمَانِكُمْ كَافِرِينَ(100) وَكَيْفَ تَكْفُرُونَ وَأَنْتُمْ تُتْلَى عَلَيْكُمْ ءَايَاتُ اللَّهِ وَفِيكُمْ رَسُولُهُ وَمَنْ يَعْتَصِمْ بِاللَّهِ فَقَدْ هُدِيَ إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ(101)

“Hai orang-orang yang beriman, jika kamu mengikuti sebahagian dari orang-orang yang diberi Al Kitab, niscaya mereka akan mengembalikan kamu menjadi orang kafir sesudah kamu beriman. Bagaimanakah kamu (sampai) menjadi kafir, padahal ayat-ayat Allah dibacakan kepada kamu, dan Rasul-Nya pun berada di tengah-tengah kamu? Barangsiapa yang berpegang teguh kepada (agama) Allah maka sesungguhnya ia telah diberi petunjuk kepada jalan yang lurus.” (Ali Imran: 100,101)

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا إِنْ تُطِيعُوا الَّذِينَ كَفَرُوا يَرُدُّوكُمْ عَلَى أَعْقَابِكُمْ فَتَنْقَلِبُوا خَاسِرِينَ(149)بَلِ اللَّهُ مَوْلَاكُمْ وَهُوَ خَيْرُ النَّاصِرِينَ(150)

“Hai orang-orang yang beriman, jika kamu menta`ati orang-orang yang kafir itu, niscaya mereka mengembalikan kamu ke belakang (kepada kekafiran), lalu jadilah kamu orang-orang yang rugi. Tetapi (ikutilah Allah), Allahlah Pelindungmu, dan Dia-lah sebaik-baik Penolong.” (Ali Imran: 149-150)

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا لَا تَتَّخِذُوا عَدُوِّي وَعَدُوَّكُمْ أَوْلِيَاءَ تُلْقُونَ إِلَيْهِمْ بِالْمَوَدَّةِ وَقَدْ كَفَرُوا بِمَا جَاءَكُمْ مِنَ الْحَقِّ يُخْرِجُونَ الرَّسُولَ وَإِيَّاكُمْ أَنْ تُؤْمِنُوا بِاللَّهِ رَبِّكُمْ إِنْ كُنْتُمْ خَرَجْتُمْ جِهَادًا فِي سَبِيلِي وَابْتِغَاءَ مَرْضَاتِي تُسِرُّونَ إِلَيْهِمْ بِالْمَوَدَّةِ وَأَنَا أَعْلَمُ بِمَا أَخْفَيْتُمْ وَمَا أَعْلَنْتُمْ وَمَنْ يَفْعَلْهُ مِنْكُمْ فَقَدْ ضَلَّ سَوَاءَ السَّبِيلِ(1) إِنْ يَثْقَفُوكُمْ يَكُونُوا لَكُمْ أَعْدَاءً وَيَبْسُطُوا إِلَيْكُمْ أَيْدِيَهُمْ وَأَلْسِنَتَهُمْ بِالسُّوءِ وَوَدُّوا لَوْ تَكْفُرُونَ(2)

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil musuh-Ku dan musuhmu menjadi teman-teman setia yang kamu sampaikan kepada mereka (berita-berita Muhammad), karena rasa kasih sayang; padahal sesungguhnya mereka telah ingkar kepada kebenaran yang datang kepadamu, mereka mengusir Rasul dan (mengusir) kamu karena kamu beriman kepada Allah, Tuhanmu. Jika kamu benar-benar keluar untuk berjihad pada jalan-Ku dan mencari keridhaan-Ku (janganlah kamu berbuat demikian). Kamu memberitahukan secara rahasia (berita-berita Muhammad) kepada mereka, karena rasa kasih sayang. Aku lebih mengetahui apa yang kamu sembunyikan dan apa yang kamu nyatakan. Dan barangsiapa di antara kamu yang melakukannya, maka sesungguhnya dia telah tersesat dari jalan yang lurus. (Mumtahanah: 1-2)

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا لَا تَتَوَلَّوْا قَوْمًا غَضِبَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ قَدْ يَئِسُوا مِنَ الْآخِرَةِ كَمَا يَئِسَ الْكُفَّارُ مِنْ أَصْحَابِ الْقُبُورِ(13)

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu jadikan penolongmu kaum yang dimurkai Allah, sesungguhnya mereka telah putus asa terhadap negeri akhirat sebagaimana orang-orang kafir yang telah berada dalam kubur berputus asa.” (Mumtahanah: 13)

Kesembilan, orang yang meyakini bahwa ada manusia yang boleh keluar dari syariat Muhammad sebagaimana bolehnya Khidir keluar dari syariatnya Musa AS maka orang yang semacamn ini pu dihukumi kafir. Karena menurutnya, Nabi itu diutus pada suatu kaum tertentu, dan setiap orang tidak mwajib mengikutinya.

Adapun nabi kita Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam diutuskan kepada sluruh umat Manusia, sehingga tidak dihalalkan bagi siapapun menyelisihi beliau ataupun keluar dari syariat beliau.

قُلْ يَاأَيُّهَا النَّاسُ إِنِّي رَسُولُ اللَّهِ إِلَيْكُمْ جَمِيعًا الَّذِي لَهُ مُلْكُ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ يُحْيِي وَيُمِيتُ فَآمِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ النَّبِيِّ الْأُمِّيِّ الَّذِي يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَكَلِمَاتِهِ وَاتَّبِعُوهُ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ(158)

“Katakanlah: “Hai manusia sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu semua, yaitu Allah yang mempunyai kerajaan langit dan bumi; tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, Yang menghidupkan dan mematikan, maka berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul Nya, Nabi yang ummi yang beriman kepada Allah dan kepada kalimat-kalimat-Nya (kitab-kitab-Nya) dan ikutilah dia, supaya kamu mendapat petunjuk.” (Al-A’raf: 158)

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ(107)

“Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.“ (Al-Anbiya’: 107)

تَبَارَكَ الَّذِي نَزَّلَ الْفُرْقَانَ عَلَى عَبْدِهِ لِيَكُونَ لِلْعَالَمِينَ نَذِيرًا(1)

“Maha Suci Allah yang telah menurunkan Al-Furqaan (Al Qur’an) kepada hamba-Nya, agar dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam.” (Al-Furqan: 1)

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا كَافَّةً لِلنَّاسِ بَشِيرًا وَنَذِيرًا وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ(28)

“Dan Kami tidak mengutus kamu, melainkan kepada umat manusia seluruhnya sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahui.” (As-Saba: 28)

Dari Jabir bin Abdillah Al-Anshari Radiyallahu ‘anhuma, bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Aku diberi oleh Allah lima perkara yang tidak pernah diberikan kepada seorang rasul pun sebelumku: aku ditolong dengan rasa takut yang dialami musuh sejauh perjalanan selama satu bulan, dijadikan bagiku bumi sebagai tempat sujud dan suci, maka siapa saja dari umatku yang mendapati waktu shalat hendaklah dia shalat, dan dihalalkan bagiku ghanimah yang tidak dihalalkan bagi seorang pun sebelumku, diberikan kepadaku syafaat, dan adalah para nabi itu diutus kepada kaumnya saja, sedangkan aku diutus kepada seluruh manusia.” (Bukhari 328, Muslim 521)

إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الْإِسْلَامُ وَمَا اخْتَلَفَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ إِلَّا مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَهُمُ الْعِلْمُ بَغْيًا بَيْنَهُمْ وَمَنْ يَكْفُرْ بِآيَاتِ اللَّهِ فَإِنَّ اللَّهَ سَرِيعُ الْحِسَابِ(19)

“Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam. Tiada berselisih orang-orang yang telah diberi Al Kitab kecuali sesudah datang pengetahuan kepada mereka, karena kedengkian (yang ada) di antara mereka. Barangsiapa yang kafir terhadap ayat-ayat Allah maka sesungguhnya Allah sangat cepat hisab-Nya.” (Ali Imran:19)

وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الإِسْلاَمِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ ﴿۸٥﴾ [آل عمران: ۸٥]

[85] Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi. [QS Aali ‘Imroon: 85]

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الإِسْلاَمَ دِينًا

Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu ni`mat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu. [QS Al Maaidah: 3]

أَفَغَيْرَ دِينِ اللَّهِ يَبْغُونَ وَلَهُ أَسْلَمَ مَنْ فِي السَّمَوَاتِ وَالأَرْضِ طَوْعًا وَكَرْهًا وَإِلَيْهِ يُرْجَعُونَ ﴿۸۳﴾ [آل عمران: ۸۳]

[83] Maka apakah mereka mencari agama yang lain dari agama Allah, padahal kepada-Nya-lah berserah diri segala apa yang di langit dan di bumi, baik dengan suka maupun terpaksa dan hanya kepada Allahlah mereka dikembalikan. [QS Aali ‘Imroon: 83]

Dan di dalam hadits: ”Demi Allah seadainya Musa ’alaihissalam itu hidup niscaya dia mengikutiku.” (dihasankan Al-Albani Al Irwaul Ghalil II/34 no.1589, dan beliau menyebutkan delapan jalan dan Ibnu Katsir juga menyebutkannya dalam tafsir ayat 81-82 dari surat Ali Imran, II/78, edisi revisi dan didha’ifkan Syaikh Muqbil dalam Hdazal Maudhi’.

Kesepuluh, berpaling dari agama Allah Ta’ala. Tidak mau mempelajari dan mengamalkannya: berpaling dari pokok-pokok agama ini, yang menjadikan seseorang itu muslim meskipun dia jahil dalam masalah-masalah agama yang rinci. Karena mengetahui tentang masalah agama yang rinci itu, terkadang tidak bisa dilakukan kecuali oleh ulama dan penuntut ilmu.

(Surat-surat lain yang mendukung masalah ini) :

مَا خَلَقْنَا السَّمَوَاتِ وَالأَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا إِلاَّ بِالْحَقِّ وَأَجَلٍ مُسَمًّى وَالَّذِينَ كَفَرُوا عَمَّا أُنْذِرُوا مُعْرِضُونَ ﴿۳﴾ [الأحقاف: ۳]

Kami tiada menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya melainkan dengan (tujuan) yang benar dan dalam waktu yang ditentukan. Dan orang-orang yang kafir berpaling dari apa yang diperingatkan kepada mereka. (Al Ahqaf: 3)

وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنْ ذُكِّرَ بِآيَاتِ رَبِّهِ ثُمَّ أَعْرَضَ عَنْهَا إِنَّا مِنَ الْمُجْرِمِينَ مُنْتَقِمُونَ

Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang telah diperingatkan dengan ayat-ayat Tuhannya, kemudian ia berpaling daripadanya? Sesungguhnya Kami akan memberikan pembalasan kepada orang-orang yang berdosa. (Sajadah: 22)

وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَى ﴿١٢٤﴾ [طه: ١٢٤]

“Dan Barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta.” (Thaha:124)

كَذَلِكَ نَقُصُّ عَلَيْكَ مِنْ أَنْبَاءِ مَا قَدْ سَبَقَ وَقَدْ ءَاتَيْنَاكَ مِنْ لَدُنَّا ذِكْرًا ﴿۹۹﴾ مَنْ أَعْرَضَ عَنْهُ فَإِنَّهُ يَحْمِلُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وِزْرًا ﴿١۰۰﴾ خَالِدِينَ فِيهِ وَسَاءَ لَهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حِمْلاً ﴿١۰١﴾ [طه: ۹۹ - ١۰١]

[99] Demikianlah Kami kisahkan kepadamu (Muhammad) sebagian kisah umat yang telah lalu, dan sesungguhnya telah Kami berikan kepadamu dari sisi Kami suatu peringatan (Al Qur’an). [100] Barangsiapa berpaling daripada Al Qur’an maka sesungguhnya ia akan memikul dosa yang besar di hari kiamat, [101] mereka kekal di dalam keadaan itu. Dan amat buruklah dosa itu sebagai beban bagi mereka di hari kiamat. (Thaha: 99-101). /**

(Diterjemahkan oleh al akh Luqman Yazid edisi Bahasa Indonesia SEPULUH PEMBATAL KEISLAMAN, judul asli Al-Qaulul Mufid fi Adillati At-Tauhid, karya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab Al-Washabi Al-Yamani, Ulama Ahlusunnah era ini dari Yaman, dikirimkan al Akh Khudori, Malang)

Sumber: http://www.salafy.or.id/print.php?id_artikel=845

http://ww.salafy.or.id/print.php?id_artikel=846

Share:
  • Facebook
  • Twitter
  • MySpace
  • RSS

SEPULUH PEMBATAL KEISLAMAN (Terjemahan)

Sepuluh Pembatal Keislaman

Ini adalah terjemahan dari kitab Al-Qaul Al-Mufid fii Adillah At-Tauhid Bab: Nawaqidh Al-Islam ‘Asyarah, karya: Asy-Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab Al-Wushabi Al-Yamani -hafizhahullah-, salah seorang murid dari Asy-Syaikh Muqbil bin Hadi Al-Wadi’i -rahimahullah-.

Pertama: Kesyirikan (beribadah kepada selain Allah).
Allah Ta’ala berfirman, “Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik kepada-Nya, dan Dia mengampuni semua dosa di bawah dari itu bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh di telah mengadakan dosa yang besar.” (QS. An-Nisa’:48)

Allah Ta’ala berfirman, “Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: “Sesungguhnya Allah adalah Al-Masih putera Maryam”, padahal Al-Masih (sendiri) berkata: “Wahai Bani Israil, sembahlah Allah Rabbku dan Rabb kalian”. Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, Maka Allah akan mengharamkan surga untuknya dan tempatnya adalah di neraka, tidak ada seorangpun penolong bagi orang-orang yang zalim.” (QS. Al-Maidah: 72)

Kedua: Berpaling dari Islam dengan lebih memilih agama Yahudi, Nashrani, Majusi, Komunis, Sekularis, atau selainnya dari keyakinan yang membawa kekufuran jika dia menyakininya.
Allah Ta’ala berfirman, “Wahai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kalian yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintai-Nya, yang bersikap lemah lembut kepada kaum mukminin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad di jalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah yang Dia berikan kepada siapa yang Dia kehendaki, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Maidah: 54)
Allah Ta’ala berfirman, “Sesungguhnya orang-orang yang kembali ke belakang (kepada kekafiran) sesudah petunjuk itu jelas bagi mereka, setan telah menjadikan mereka mudah (berbuat dosa) dan memanjangkan angan-angan mereka. Yang demikian itu karena sesungguhnya mereka (orang-orang munafik) berkata kepada orang-orang yang benci kepada apa yang diturunkan Allah (orang-orang Yahudi): “Kami akan mematuhi kalian dalam beberapa urusan”, sedang Allah mengetahui rahasia mereka. Bagaimanakah (keadaan mereka) apabila para malaikat mencabut nyawa mereka seraya memukul-mukul muka mereka dan punggung mereka? Yang demikian itu adalah karena sesungguhnya mereka mengikuti apa yang menimbulkan kemurkaan Allah dan karena mereka membenci keridhaan-Nya, sebab itu Allah menghapus amalan-amalan mereka. Atau apakah orang-orang yang ada penyakit dalam hatinya mengira bahwa Allah tidak akan menampakkan kedengkian mereka? Dan kalau kami kehendaki, niscaya kami tunjukkan mereka kepada kalian sehingga kalian benar-benar dapat mengenal mereka dengan tanda-tandanya, dan kalian benar-benar akan mengenal mereka dari kiasan-kiasan perkataan mereka dan Allah mengetahui perbuatan-perbuatan kalian.” (QS. Muhammad: 25-30)

Ketiga: Orang yang tidak mengkafirkan orang kafir baik dari Yahudi, Nashrani, Majusi, orang-orang musyrik, atau orang yang mulhid (Atheis) atau selain itu dari berbagai macam kekufuran. Atau dia meragukan kekafiran mereka atau dia membenarkan mazhab/ajaran mereka, maka dia telah kafir.
Allah Ta’ala berfirman, “Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada Allah dan rasul-rasulNya, dan bermaksud membeda-bedakan antara (keimanan kepada) Allah dan rasul-rasulNya, dengan mengatakan: “Kami beriman kepada yang sebahagian dan kami kafir terhadap sebahagian (yang lain)”, serta bermaksud (dengan perkataan itu) mengambil jalan (tengah) di antara yang demikian (iman atau kafir). Merekalah orang-orang yang kafir dengan sebenar-benarnya kekafiran. Kami Telah menyediakan siksaan yang menghinakan untuk orang-orang yang kafir itu.” (QS. An-Nisa’: 150-151)

Keempat: Orang yang meyakini bahwasanya petunjuk selain petunjuk Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wassallam- lebih sempurna atau meyakini bahwa hukum selain hukum yang dibawa oleh Rasulullah -shallallahu’alaihi wasallam- lebih baik (daripada petunjuk dan hukum beliau). Seperti orang-orang yang lebih memilih hukum-hukum thagut daripada hukum yang dibawa oleh Rasulullah -Shallallahu’alaihi wasallam-.
Allah Ta’ala berfirman, “Apakah hukum jahiliyah yang mereka inginkan, dan siapakah yang lebih baik hukumnya daripada Allah bagi orang-orang yang yakin?” (QS. Al-Maidah: 50)
Allah Ta’ala berfirman, “Barangsiapa mencari agama selain Islam, maka tidak akan diterima (agama itu) darinya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.” (QS. Ali Imran: 85)

Kelima: Orang yang membenci apa yang dibawa oleh Rasulullah -shallallahu’alaihi wasallam-, walaupun dia mengamalkannya.
Allah Ta’ala berfirman, “Dan orang-orang yang kafir, maka kecelakaanlah bagi mereka dan Allah menghilangkan amalan-amalan mereka. Yang demikian itu adalah karena sesungguhnya mereka benci kepada apa yang Allah turunkan maka Allah menghapuskan amalan-amalan mereka.” (QS. Muhammad: 8-9)

Keenam: Orang yang mengolok-olok (menghina) Allah, Rasul, Al-Qur’an, agama Islam, malaikat, atau para ulama karena ilmu yang mereka miliki. Atau menghina salah satu syiar dari syiar-syiar Islam seperti, shalat, zakat, puasa, haji, tawaf di Ka’bah,wukuf di ‘Arafah, atau menghina Masjid, azan, jenggot, atau sunnah-sunnah Rasulullah -shollallahu’alaihi wasallam lainnya, dan syi’ar-syi’ar agama Allah, dan tempat-tempat yang disucikan dalam keyakinan Islam serta yang terdapat keberkahan padanya.
Allah Ta’ala berfirman, “Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentulah mereka akan menjawab, “Sesungguhnya kami hanyalah bersenda gurau dan bermain-main saja.” Katakanlah: “Apakah dengan Allah, ayat-ayatNya, dan Rasul-Nya kalian berolok-olok?” Tidak usah kalian minta maaf, karena kalian telah kafir setelah beriman. Jika kami memaafkan segolongan kalian (lantaran mereka taubat), niscaya kami akan mengazab golongan (yang lain) disebabkan mereka adalah orang-orang yang selalu berbuat dosa.” (QS. At-Taubah: 65-66)

Ketujuh: Sihir, termasuk ash-shorfu (merubah seseorang dari sesuatu yang dicintainya menjadi yang dibencinya) dan al-athfu (mendorong seseorang dari sesuatu yg dibencinya menjadi dicintainya/pelet dan semacamnya, pent.)
Allah Ta’ala berfirman, “Dan mereka mengikuti apa yang dibaca oleh setan-setan pada masa kerajaan Sulaiman (dan mereka mengatakan bahwa Sulaiman itu mengerjakan sihir), padahal Sulaiman tidak kafir (tidak mengerjakan sihir), akan tetapi justru setan-setan itulah yang kafir (mengerjakan sihir). Mereka mengajarkan sihir kepada manusia dan apa yang diturunkan kepada dua orang malaikat di negeri Babil yaitu Harut dan Marut. Keduanya tidak mengajarkan (sesuatu) kepada seorangpun sebelum mengatakan: “Sesungguhnya kami hanyalah cobaan (kepada kamu) sebab itu janganlah kamu kafir”. Maka mereka mempelajari dari kedua malaikat itu apa yang dengan sihir itu, mereka dapat memisahkan antara seorang (suami) dengan isterinya. Dan mereka itu (ahli sihir) tidak bisa memberi mudharat dengan sihirnya kepada seorangpun, kecuali dengan izin Allah. Dan mereka mempelajari sesuatu yang tidak memberikan mudharat kepada mereka dan tidak pula memberi manfaat kepada mereka. Sungguh mereka telah meyakini bahwa barangsiapa yang menukarnya (Kitab Allah) dengan sihir itu, tiadalah baginya keuntungan di akhirat, dan amat jahatlah perbuatan mereka menjual dirinya dengan sihir, kalau mereka Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 102)

Kedelapan: Memberikan pertolongan kepada orang kafir dan membantu mereka dalam rangka memerangi kaum muslimin.
Allah Ta’ala berfirman, “Wahai orang-orang yang beriman, jika kalian mengikuti sebagian dari ahli kitab, niscaya mereka akan mengembalikan kalian menjadi orang kafir sesudah kalian beriman. Bagaimanakah kalian (bisa sampai) kafir padahal ayat-ayat Allah dibacakan kepada kalian dan Rasul-Nya berada di tengah-tengah kalian? Barangsiapa yang berpegang teguh kepada (agama) Allah, maka sesungguhnya dia telah diberi petunjuk kepada jalan yang lurus.” (QS. Ali Imron: 100-101)

Kesembilan: Meyakini bahwa ada sebagian manusia yang diberi keleluasaan untuk keluar dari syariat Rasulullah -shollallahu ’alaihi wasallam-, sebagaimana Nabi Khidir diperbolehkan keluar dari syariat yang dibawa Nabi Musa -‘alaihissalam-.
Allah Ta’ala berfirman, “Dan kami tidak mengutus kamu melainkan kepada umat manusia seluruhnya sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tiada Mengetahui.” (QS. Saba’: 28)

Kesepuluh: Berpaling dari agama Allah Ta’ala, tidak mempelajarinya, dan tidak beramal dengannya.
Allah Ta’ala berfirman, “Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang telah diperingatkan dengan ayat-ayat Rabbnya, kemudian dia berpaling darinya? Sesungguhnya kami akan memberikan pembalasan kepada orang-orang yang berdosa.” (QS. As-Sajdah: 22)
Allah Ta’ala berfirman, “Demikianlah kami kisahkan kepadamu (Muhammad) sebagian kisah umat yang telah lalu, dan sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu dari sisi Kami suatu peringatan (Al-Quran). Barangsiapa yang berpaling dari Al-Qur’an, maka sesungguhnya dia akan memikul dosa yang besar di hari kiamat. Mereka kekal di dalamnya dan amat buruklah dosa itu sebagai beban bagi mereka di hari kiamat.” (QS. Thaha: 99)

Sumber: http://al-atsariyyah.com/10-pembatal-keislaman.html

Share:
  • Facebook
  • Twitter
  • MySpace
  • RSS

PENGAGUNGAN KEPADA SUNNAH DAN KEWAJIBAN MENJALANKANNYA

Pengagungan Kepada Sunnah dan Kewajiban Mengamalkannya

Sunnah, ditinjau dari segi bahasa bermakna Ath Thariq (jalan) dan As Sirah (perjalanan hidup). Adapun menurut istilah syari’at sunnah adalah semua perkara yang bersumber dari Nabi Shalallahu ‘alaihi wassalam selain dari Al Qur’anul karim baik berupa ucapan, perbuatan, ataupun taqrir (pembenaran sikap beliau) dari hal- hal yang memiliki dalil secara syar’i.

Inilah sunnah yang kita maksud dalam pembahasan ini, bukan sunah dalam artian hukum fiqih, yaitu sesuatu yang jika dikerjakan akan mendapatkan pahala dan jika ditinggalkan tidak apa-apa.

Kalimat sunnah lebih luas maknanya dari pada itu. Segala sesuatu yang diperintahkan, diajarkan dan dicontohkan oleh Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam dinamakan sunnah. Dengan kata lain sunnah adalah ajaran nabi. Jika kita ditanya apa hukumya mengikuti ajaran nabi, niscaya semua kaum muslimin akan menjawab wajib. Dan sebaliknya, barangsiapa yang mengingkari ajaran Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam maka dia kafir.

Firman Allah Tabaroka wata’ala :

Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah. (al-Hasyr: 7)

Dengan ayat ini Allah Subhanahu wata’ala mewajibkan kepada manusia agar mentaati perintah Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam dan menjauhi larangan- larangannya. Barangsiapa yang mentaati Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam berarti dia mentaati perintah Allah.

Dan barangsiapa yang tidak mentaatinya berarti dia tidak mentaati perintah Allah. Hal ini sebagaimana diterangkan dalam ayat lain:
Barangsiapa yang menta’ati Rasul itu, sesungguhnya ia telah menta’ati Allah. Dan barangsiapa yang berpaling (dari keta’atan itu), maka Kami tidak mengutusmu untuk menjadi pemelihara bagi mereka.(an-Nisa’: 80)

Ayat-ayat yang menunjukkan wajibnya taat kepada Rasululullah Shalallahu ‘alaihi wassalam sangat banyak, diantaranya:

Hai orang-orang yang beriman, ta’atilah Allah dan ta’atilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kalian. (an-Nisa’: 59)

Katakanlah: “Ta’atlah kepada Allah dan ta’atlah kepada rasul… (an-Nuur: 54)

Katakanlah: “Jika kalian (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” ِِِDan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Ali Imron: 31)

Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul dan janganlah kalian merusak (pahala) amal-amalmu. (Muhammad: 33)

(Dikutip dari Bulletin Dakwah Manhaj Salaf, penulis Ustadz Muhammad Umar As Sewed, judul asli “Wajibnya Mengamalkan Sunnah”.)

Share:
  • Facebook
  • Twitter
  • MySpace
  • RSS

MAKNA “MUHAMMAD RASULULLAH”

MAKNA “MUHAMMAD RASULULLAH”

Beriman bahwasanya Muhammad Shallallahu’alaihi wasallam sebagai utusan Allah, adalah membenarkan apa yang dikabarkannya, menta’ati apa yang diperintahkannya, dan meninggalkan apa yang dilarang dan diperingat-kan darinya, serta kita menyembah Allah dengan apa yang disyari’atkannya.
1. Syaikh Abul Hasan An-Nadwy herkata dalam buku “An-Nubuwwah” sebagai berikut, “Para nabi Shallallahu’alaihi wasallam , dakwah pertama dan tujuan terbesar mereka di setiap masa adalah meluruskan aqidah (keyakinan) terhadap Allah Subhanahu wata’ala . Meluruskan hubungan antara hamba dengan Tuhannya. Mengajak memurnikan agama ini untuk Allah dan hanya beribadah kepada Allah semata. Sesungguhnya Dia (Allah) Dzat yang memberikan manfa’at. Yang mendatangkan mudharat. Yang berhak menerima ibadah, do’a, penyandaran diri (iltija’) dan sembelihan. Dahulu, dakwah para nabi diarahkan kepada orang-orang yang menyembah berhala, yang secara terang-terangan menyembah berhala-berhala, patung-patung dan orang-orang shalih yang dikultuskan, baik yang masih hidup maupun yang sudah mati.

2. Allah Subhanahu wata’ala berfirman kepada Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam :
“Katakanlah, ‘Aku tidak berkuasa menarik kemanfa’atan bagi diriku dan tidak (pula) menolak kemudharatan kecuali yang dikehendaki Allah. Dan sekiranya aku mengetahui yang ghaib, tentulah aku membuat kebajikan sebanyak-banyaknya, dan aku tidak akan ditimpa kemudharatan. Aku tidak lain hanyalah pemberi peringatan, dan membawa berita gembira bagi orang-orang yang beriman’.” (Al-A’raaf: 188)
Dan Nabi Shallallahu’alaihi wasallam bersabda,

“Janganlah kalian berlebih-lebihan memuji (menyanjung) diriku, sebagaimana orang-orang Nasrani berlebih-lebihan memuji Ibnu Maryam (Isa). Sesungguhnya aku adalah hamba Allah maka Katakanlah: ‘Hamba Allah dan RasulNya’.” (HR. Al-Bukhari)
Makna “Al-Itharuuan” ialah berlebih-lebihan dalam memuji (menyanjung). Kita tidak menyembah kepada Muhammad, sebagaimana orang-orang Nasrani menyembah Isa Ibnu Maryam, sehingga mereka terjerumus dalam kesyirikan. Dan Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam mengajarkan kepada kita untuk mengatakan: “Muhammad hamba Allah dan RasulNya.”

3. Sesungguhnya kecintaan kepada Rasul Shallallahu’alaihi wasallam adalah berupa keta’atan kepadaNya, yang diekspresikan dalam bentuk berdo’a (memohon) kepada Allah semata dan tidak berdo’a kepada selainNya, meskipun ia seorang rasul atau wali yang dekat (di sisi Allah).
Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda:

“Apabila engkau meminta, maka mintalah kepada Allah dan apabila engkau memohon pertolongan, maka mohonlah pertoongan dari Allah.” (HR. At-Tirmidzi, ia berkata hadits hasan shahih)

Dan apabila Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam dirundung duka cita, maka beliau membaca:

“Wahai Dzat yang hidup kekal lagi terus menerus mengurus makhlukNya, dengan rahmatMu aku memohon pertolongan.” (HR At-Tirmidzi, hadits hasan)

Semoga Allah merahmati penyair yang berkata, “Ya Allah, aku memintaMu untuk menghilangkan kesusahan kami. Dan kesusahan ini, tiada yang bisa menghapusnya kecuali Engkau, ya Allah.”

AL FIRQOTUN NAAJIYAH
Syaikh Muhammad Jamil Zainu

Share:
  • Facebook
  • Twitter
  • MySpace
  • RSS
Powered by Blog.com